Namun, sejumlah upaya telah dilakukan untuk menjaga kesenian ini tetap hidup. Pemerintah daerah dan para pegiat budaya berupaya memasukkan pelatihan silat ke dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, serta menggelar festival budaya tahunan yang menampilkan atraksi Silat Tigo Bulan.
“Kita berharap Silat Tigo Bulan bisa menjadi ikon budaya Rokan Hilir. Tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan bagi generasi muda untuk mencintai budayanya sendiri,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Rokan Hilir, Zulkarnain, dalam sebuah wawancara.
Penutup
Silat Tigo Bulan adalah lebih dari sekadar seni bela diri. Ia merupakan simbol dari kekayaan budaya, spiritualitas, dan jati diri masyarakat Melayu Rokan Hilir. Di tengah tantangan zaman, pelestarian Silat Tigo Bulan menjadi tanggung jawab bersama, agar warisan leluhur ini tidak lekang oleh waktu dan tetap mengakar di hati masyarakat.

