GELUMPAI.ID — Aktor top Korea Selatan, Kim Soo-hyun, kembali jadi sorotan usai menggelar konferensi pers darurat terkait rumor hubungan masa lalunya dengan mendiang aktris Kim Sae-ron.
Konferensi pers itu berlangsung pada 31 Maret di Stanford Hotel, Distrik Mapo, Seoul.
Kim Soo-hyun tampil bersama kuasa hukumnya, Kim Jong-bok dari LKB & Partners, serta CEO agensinya, Ahn Sung-soo.
Langkah ini diambil setelah rumor soal kedekatannya dengan Kim Sae-ron merebak selama tiga minggu terakhir.
Spekulasi itu menyebutkan hubungan mereka dimulai sejak 2015, saat Kim Sae-ron masih berusia 15 tahun dan berlangsung selama enam tahun.
Polemik makin memanas usai keluarga Kim Sae-ron meminta permintaan maaf terbuka.
Mereka menegaskan Kim Soo-hyun harus mengakui pernah menjalin hubungan saat Sae-ron masih di bawah umur.
Dalam konferensi pers berdurasi 40 menit itu, Kim Soo-hyun mengawali pernyataan dengan kalimat emosional.
“Aku pengecut,” katanya, tanpa menyebut langsung nama mendiang Kim Sae-ron.
Ia membantah tuduhan yang menyebut mereka berpacaran saat Sae-ron masih di bawah umur.
Menurut Kim, hubungan mereka hanya berlangsung satu tahun setelah Kim Sae-ron menjadi dewasa secara hukum.
Kim juga mengklaim telah menjadi korban pemerasan dan pencemaran nama baik.
“Sebagai bintang, aku punya banyak hal yang bisa hilang,” ujarnya.
Namun, pernyataan tersebut dinilai tak berhasil mengubah opini publik.
Alih-alih simpati, Kim justru dikecam karena terkesan menyerang pihak keluarga dan meminta mereka menyertakan bukti ke polisi.
Di akhir sesi, tim hukum Kim mengumumkan akan melaporkan keluarga Kim Sae-ron dan seorang kreator YouTube atas pencemaran nama baik.
Mereka juga mengajukan gugatan ganti rugi senilai 12 miliar won atau sekitar Rp170 miliar.
Media internasional tak tinggal diam.
Variety menyebut penampilan Kim sebagai “emosional” dan menyebut skandal ini sebagai pukulan besar bagi kariernya.
BBC menulis bahwa skandal ini mengguncang masyarakat Korea dan dunia hiburan.
Mereka menyoroti betapa hubungan selebriti dengan remaja bisa memicu reaksi publik yang ekstrem.

