News
Beranda » News » Kisah dari Gaza: Peringatan Setahun Kepergian Ibu di Tengah Perang Gaza

Kisah dari Gaza: Peringatan Setahun Kepergian Ibu di Tengah Perang Gaza

GELUMPAI.ID — Tepat setahun lalu, seorang anak di Gaza kehilangan ibunya di tengah perang yang berkecamuk. Kini, ia menulis kenangan penuh duka untuk mengenang sang ibu.

Ibunya meninggal pada 7 Mei 2024, di Mesir, setelah dievakuasi karena sakit fibrosis paru. Perang yang menghancurkan Gaza memisahkan mereka hingga akhir.

Perang di Gaza telah berlangsung selama 570 hari. Selain pemboman dan pengusiran, kini warga menghadapi kelaparan akibat blokade Israel.

Di rumah keluarga di Gaza utara, hanya setengah karung tepung tersisa. Makanan kaleng menipis, dan perjuangan mencari makanan terjadi setiap hari.

Mengutip laman Al-Jazeera, lebih dari dua bulan blokade Israel menutup akses makanan, obat-obatan, dan bantuan. Ribuan warga mengantre di dapur amal yang kian kehabisan stok.

Sang anak merindukan doa ibunya yang selalu memohon keselamatan keluarga. “Tanpa doamu, perang terasa lebih berat,” tulisnya.

Rumah keluarga di Gaza utara hangus terbakar akibat perang. Namun, kamar dan pakaian ibunya tetap utuh, disimpan sebagai kenangan berharga.

Ibunya menderita karena listrik sering padam, mengancam pompa oksigen yang ia butuhkan. Perpindahan dari satu tempat ke lain di Gaza menambah penderitaannya.

Keluarga berpindah ke Deir el-Balah untuk mencari panel surya demi menyalakan pompa oksigen. Namun, bom Israel terus mengikuti mereka.

Akhirnya, ibunya berhasil dievakuasi ke Mesir pada 6 Desember 2023. Itu menjadi perpisahan terakhir mereka.

Di Mesir, ibunya terus khawatir akan nasib anak dan cucunya di Gaza. Jaringan yang buruk membuat komunikasi tersendat, menambah beban psikologisnya.

“Saya sembunyi di atap rumah sakit untuk mengirim pesan bahwa kami baik-baik saja,” kenang sang anak.

Ibunya sering meminta mereka berhati-hati. “Jangan ke rumah sakit, jangan membahayakan diri,” katanya.

Sang anak berjalan jauh untuk mendapat sinyal internet demi mengirim kabar. Foto dan panggilan suara menjadi penghibur di tengah perang.

Penyakit bukan penyebab utama kematian ibunya. “Patah hati, jarak, dan kekhawatiran merenggut semangat hidupnya,” tulis sang anak.

Laman: 1 2