GELUMPAI.ID — Kolonel M., perwira intelijen Divisi 162 IDF, selamat dari ledakan dahsyat di Jabalya. Insiden itu merenggut nyawa sahabatnya, Kolonel Ikhssan Daqsa, komandan Brigade 401.
Dalam wawancara pertamanya dengan publik, M. mengisahkan serangan tersebut. Ia juga berbagi beban emosional kepemimpinan dan upaya memulihkan sandera di Gaza.
Tanks IDF berkumpul di perbatasan Gaza saat wawancara berlangsung. Divisi 162 kembali memimpin operasi darat dalam perang Israel-Hamas.
M., 40 tahun, warga Teluk Haifa, menyinggung kesiapan divisinya. Pengalaman ratusan hari di medan tempur menjadi modal utama.
“Ikhssan selalu memimpin dari depan,” kata M. tentang Daqsa. “Kami sarapan bersama di pos komandonya.”
Mereka pindah ke rumah terdekat untuk rapat dengan komandan batalion. “Di sinilah saya mendapat wawasan terbaik, langsung dari lapangan,” ujarnya.
Daqsa melihat sesuatu mencurigakan sebelum ledakan terjadi. “Kami berhenti. Dia di depan saya. Lalu ledakan itu mengguncang,” kenang M.
Gelombang kejut menyusul. “Saya meraba wajah, tahu saya terluka,” katanya.
Saat teroris menembak dari gang, M. membalas dan menyelamatkan komandan Batalion 52. “Ikhssan hanya tiga meter dari saya. Saya lihat dia terluka parah.”
Serpihan bom menancap di belakang telinga M., nyaris mengenai otaknya. “Itu keajaiban. Ikhssan menyelamatkan saya karena ia peka,” ucapnya.
M. mendapat kabar Daqsa gugur tak lama setelah dievakuasi. “Itu menghancurkan. Tapi malam itu, brigade melancarkan serangan balik sukses,” tuturnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Jerusalem Post, operasi penyelamatan tubuh Oron Shaul dilakukan sebelum gencatan senjata. “Semuanya harus sempurna. Satu kesalahan bisa gagalkan gencatan,” kata M.
Operasi su kala itu melibatkan puluhan personel di lapangan. Ratusan lainnya bekerja di belakang layar.
Di Jabalya, intelijen real-time dan tipuan terkoordinasi sukses. Puluhan operatif Hamas dilumpuhkan.
Namun, kegagalan juga ada. Di Rafah, enam sandera tewas oleh Hamas sebelum pasukan tiba.
“Kami sangat dekat,” kata M. “Momen itu membekas di hati kami.”

