News
Beranda » News » Kondisi Kumuh Pasar Rau Dinilai Akibat Kurangnya Perhatian Pemkot

Kondisi Kumuh Pasar Rau Dinilai Akibat Kurangnya Perhatian Pemkot

Kondisi Pasar Induk Rau, Kota Serang.

GELUMPAI.ID – Polemik Pasar Induk Rau terus menyita perhatian, salah satunya datang dari suara masyarakat Kota Serang, Mansur yang akrab disapa Cacung.

Ia menegaskan bahwa Pasar Induk Rau adalah pasar terbesar sekaligus kebanggaan Kota Serang, yang kini justru berada dalam kondisi memprihatinkan.

Menurut Cacung, sebelum pandemi Covid-19, Pasar Rau masih mampu bersaing dengan pasar modern yang bermunculan di Kota Serang.

Namun sejak 2020, pandemi membuat aktivitas perdagangan lesu.

“Para pedagang mengeluh kurangnya pembeli bahkan tidak ada pembeli,” ungkap Cacung.

Sayangnya, hingga kini situasi belum membaik. Cacung menilai pemerintah kota jarang turun tangan serius.

“Kehadiran pemerintah hanya saat-saat tertentu seperti datang dengan dalih monitoring harga pasar di bulan Ramadhan, tidak lebih dari itu,” katanya.

Rencana Pemkot Serang merobohkan Pasar Rau dan membangun ulang juga mendapat sorotan tajam.

Pasar yang didirikan oleh BUMN WIKA dengan usia bangunan dirancang hingga 70 tahun, kini baru menginjak usia 20 tahun.

“Tentu rencana ini membuat para pedagang kaget bahkan menolak,” tegasnya.

Ia menambahkan, selama hampir lima tahun terakhir pedagang sudah terbebani dengan hasil penjualan yang kecil, bahkan sering dalam sehari tidak ada barang yang terjual.

Kondisi pasar yang kumuh, parkir semrawut, dan lingkungan tak tertata membuat wajah pasar semakin terkesan tidak layak.

“Namun pemerintah seolah tutup mata,” kritik Cacung.

Lebih jauh, ia menyebut Walikota Serang tetap bersikeras merobohkan pasar dengan alasan ada analisis PUPR soal kekuatan bangunan.

“Tapi hasilnya tidak pernah dibuka,” ujarnya.

Ia juga menyoroti rencana pembangunan ulang yang menggunakan skema pinjaman.

“Mengapa tidak berpikir menata lebih rapi dan merenovasi bagian yang memang seharusnya direnovasi?” tanyanya.

Dengan kondisi pendapatan pedagang yang sudah tidak sebanding dengan biaya sehari-hari, Cacung berharap rencana pembangunan ulang dibatalkan.

“Membangun sesuatu itu jika belum ada. Kalau sudah ada berarti yang harus dilakukan adalah penataan untuk lebih baik dan merenovasi,” tandasnya.