News
Beranda » News » Konflik Sudan Selatan Usir Ribuan Warga dari Rumah

Konflik Sudan Selatan Usir Ribuan Warga dari Rumah

GELUMPAI.ID — Kekerasan di Sudan Selatan memaksa lebih dari 130.000 orang mengungsi sejak Februari. Pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok oposisi melanda Jonglei dan Upper Nile.

Nyandeng Meeth, ibu sembilan anak, kehilangan jejak anak-anaknya saat serangan terjadi di kota Mat. “Saya pulang setelah mengambil air, tapi rumah kosong,” kenangnya.

Serangan yang diduga dilakukan oleh pasukan SPLA-IO memicu kekacauan. Warga berlarian menyelamatkan keluarga dan harta benda.

Meeth akhirnya menemukan anak-anaknya setelah dua hari pencarian. “Ada yang bersembunyi di sungai, ada yang di bawah pohon,” ujarnya!

Konflik ini memicu wabah kolera terburuk dalam dua dekade. Pasien kabur dari pusat perawatan saat pertempuran pecah, mempercepat penyebaran penyakit.

Mengutip laman Al Jazeera, kota-kota kosong akibat serangan udara dan razia bersenjata. Jalur perdagangan dari Ethiopia terputus.

Nyankhor Ayuel, 70 tahun, juga mengungsi dari Khorfulus. “Kami sedang makan saat penembakan dimulai, kami lari tanpa membawa apa-apa,” katanya.

Ayuel menyebut kelaparan dan penyakit kini mengancam. “Ibu hamil dan menyusui menderita diare karena kekurangan air bersih,” ungkapnya.

Zechariah Monywut Chuol, ayah 12 anak, terpaksa meninggalkan rumah yang sedang dibangun. “Saya sedang menggali fondasi saat serangan dimulai,” ujarnya.

Keluarga Chuol kini bertahan dengan air kelapa dan buah liar di Panam. “Jika kelaparan bisa membunuh seperti penyakit, banyak orang sudah mati,” katanya!

Lebih dari 9,3 juta warga Sudan Selatan butuh bantuan kemanusiaan. Hampir setengahnya adalah anak-anak.

Pertempuran menghentikan semua upaya bantuan. Badan-badan kemanusiaan menarik staf dan menutup pusat perawatan kolera.

Serangan bom di rumah sakit Doctors Without Borders di Old Fangak menewaskan beberapa orang. World Food Programme juga menghentikan operasi di beberapa wilayah.

Mary-Ellen McGroarty dari WFP menyebut akses fisik sangat sulit. “Konflik aktif membuat kami tidak bisa bergerak,” ujarnya.

Peter Matai, direktur Komisi Bantuan dan Rehabilitasi, melaporkan 30.000 pengungsi di Panam belum mendapat bantuan. “Kami masih menunggu izin dari PBB,” katanya.

Laman: 1 2