GELUMPAI.ID — Korea Selatan kini harus menghadapi tekanan besar dari Amerika Serikat terkait pembagian biaya pertahanan setelah Jepang memulai negosiasi dengan Amerika Serikat mengenai masalah tersebut.
Dalam pembicaraan yang terjadi baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump dikabarkan mengusulkan agar masalah ekonomi dan pertahanan digabungkan dalam satu kesepakatan.
Trump, yang bertemu dengan Menteri Revitalisasi Ekonomi Jepang Ryosei Akazawa di Washington, mengungkapkan niatnya untuk menautkan dukungan terhadap pasukan AS yang ditempatkan di luar negeri, termasuk Jepang, dengan perundingan ekonomi. Setelah pertemuan itu, Trump menyebut istilah “one-stop shopping”, yang merujuk pada gagasan untuk menangani beberapa masalah seperti tarif dan biaya pertahanan dalam satu kesepakatan.
Negosiasi ini juga bisa menjadi gambaran awal bagi Korea Selatan yang dijadwalkan akan memulai perundingan serupa minggu depan. Sejak awal, Korea lebih memilih untuk memisahkan masalah perdagangan dan pertahanan, terutama dalam hal berbagi biaya untuk 28.500 tentara AS yang berada di Korea Selatan.
Sebelum rapat dengan Parlemen, Menteri Keuangan Korea Choi Sang-mok menyatakan bahwa Korea belum berada dalam posisi untuk membuat komitmen pasti mengenai pembagian biaya pertahanan.
“Kami belum tahu apa yang sebenarnya diinginkan pemerintah AS,” ujarnya kepada para anggota parlemen.
“Pada tahap ini, kami sedang mempersiapkan diri untuk berdialog dengan pejabat AS tentang masalah seperti LNG, galangan kapal, dan neraca perdagangan.”
Pendekatan hati-hati Korea dinilai menguntungkan. Profesor Ekonomi dari Universitas Ewha Womans, Seok Byoung-hoon, berpendapat bahwa negara yang pertama kali mengajukan syarat dalam negosiasi sering kali merugikan diri sendiri.
“Negara pertama yang mengajukan syarat berisiko menetapkan dasar yang bisa dimanfaatkan pihak lain,” jelas Seok.
Korea kini dihadapkan pada tarif 25 persen yang lebih tinggi daripada Jepang. Dengan Washington memberikan waktu 90 hari untuk mencapai kesepakatan perdagangan, tekanan pada Seoul untuk bertindak cepat semakin meningkat.

