News
Beranda » News » Koreda Banten Tolak Wacana Penggusuran SLB A Pajajaran Bandung untuk Sekolah Rakyat

Koreda Banten Tolak Wacana Penggusuran SLB A Pajajaran Bandung untuk Sekolah Rakyat

GELUMPAI.ID – Wacana penggusuran Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Pajajaran, Kota Bandung, untuk nantinya dijadikan sebagai gedung Sekolah Rakyat, ditolak oleh Komunitas Area Disabilitas (Koreda) Banten.

Ketua Umum Koreda Banten aktivis, Nur Ahdi Asmara, menolak tegas rencana pendirian Sekolah Rakyat di Kota Bandung yang dilakukan dengan cara menggusur SLBN A Pajajaran Bandung.

Ia menuturkan, SLBN A Pajajaran Bandung yang terletak di Jalan Pajajaran No. 50, merupakan salah satu institusi pendidikan luar biasa tertua dan paling bersejarah di Indonesia.

Aktivis pendidikan inklusif itu menuturkan, sekolah tersebut telah memberikan kontribusi nyata terhadap pemberdayaan penyandang disabilitas netra, selama lebih dari satu abad.

“Saya tidak menolak kehadiran Sekolah Rakyat sebagai alternatif pendidikan, tetapi saya menolak cara yang mencederai hak kelompok rentan,” ujar Nur Ahdi Asmara, Sabtu 17 Mei 2025.

“Menggusur SLB Negeri A Pajajaran Bandung adalah tindakan yang mengabaikan nilai-nilai akademik dan kemanusiaan,” lanjutnya.

Ia pun menyoroti bahwa kebijakan ini diambil tanpa partisipasi publik yang memadai, khususnya dari komunitas difabel dan pemerhati pendidikan inklusif.

“Pendidikan inklusif adalah hak, bukan pilihan. Menghapus ruang pendidikan bagi siswa tunanetra tanpa menyediakan solusi relokasi yang adil dan setara adalah bentuk diskriminasi terselubung,” tegasnya.

Ia pun menyerukan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung, Dinas Pendidikan, dan seluruh pihak terkait untuk membatalkan rencana penggusuran SLB Negeri A Pajajaran Bandung.

Ia pun menuntut agar dalam perencanaan dan pengambilan kebijakan, wajib melibatkan komunitas difabel dan ahli pendidikan inklusif.

Lalu, menjamin keberlanjutan pendidikan dan perlindungan hak peserta didik disabilitas.

“Pendidikan yang adil tidak bisa dicapai dengan mengorbankan yang lemah. Pembangunan yang berpihak harus dimulai dengan mendengarkan suara mereka yang paling terdampak,” tandasnya.