Menurutnya, perlindungan anak bersifat dinamis, sehingga indikator keberhasilan bukan hanya soal menurunnya angka, melainkan bagaimana setiap laporan benar-benar ditangani.
“Kalau semua jumlah kasus kita tangani dan kita selesaikan, maka itu bisa tetap menjadi tolak ukur pada ramah anak, bukan hanya pada penurunan angka kekerasan saja,” ujar Hena.
Ia menegaskan, tingkat upaya pencegahan kasus kekerasan itu paralel.
Akan tetapi, menurutnya, yang namanya angka kekerasan itu sudah menjadi tolak ukur keberhasilan.
“Lebih pada penanganannya harus 100 persen sesuai dengan laporan. Artinya tidak ada kasus yang tidak kita tangani,” tuturnya.
Hena juga mengingatkan bahwa kasus yang saat ini terlaporkan bisa saja merupakan kasus lama yang baru berani diungkap.
“Bukan pada tahun ini saja. Maka dari itu, disarankan mulai deteksi dini, mulai sosialisasi untuk pelaporan yang lebih masif agar signifikan hasilnya,” tandasnya.

