GELUMPAI.ID – Plt Ketua Kaukus Politik Perempuan Indonesia (KPPI) Kota Serang, Musyarrofah, menegaskan pentingnya wakil rakyat menjaga perilaku, ucapan, dan sikap dalam menjalankan tugasnya.
Ia mengingatkan bahwa anggota legislatif baik di tingkat kota/kabupaten, provinsi, maupun pusat, harus menyadari bahwa mereka selalu menjadi sorotan publik, baik saat kamera terlihat maupun tidak.
“Menjadi anggota DPRD dan DPR RI harus mawas kamera. Baik ada, baik terlihat ataupun tidak terlihat kamera, saat kita sedang melakukan tugas apapun, harus tetap sesuai dengan tugas dan fungsinya,” kata perempuan yang juga akrab disapa Ofa.
Menurutnya, posisi sebagai wakil rakyat menuntut konsistensi dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Hal-hal kecil yang dianggap sepele bisa menjadi sorotan besar bila dilakukan di ruang publik.
“Jangan sampai seorang anggota dewan lengah, kemudian tertangkap kamera dalam situasi yang tidak pantas, lalu menjadi bulan-bulanan masyarakat,” terangnya.
Selain sikap, ucapan juga menjadi sorotan penting. Ofa menyampaikan bahwa setiap pernyataan wakil rakyat sebaiknya disusun dengan hati-hati.
Ia menilai, ucapan yang sembrono justru bisa menjadi bumerang dan memicu kekecewaan di tengah masyarakat.
“Dalam menyampaikan statement, alangkah lebih baik disusun kalimatnya agar tidak menjadi bumerang terhadap masyarakat,” tegasnya.
Oleh karena itu, Ofa menilai perlunya pembinaan politik yang berkelanjutan, khususnya bagi politisi perempuan.
Menurutnya, pembinaan tersebut penting agar para wakil perempuan tidak asal bicara tanpa mempertimbangkan dampak sosial dari pernyataan mereka.
“Politisi perempuan, punya tanggung jawab moral untuk membawa isu-isu strategis, terutama yang berkaitan dengan kepentingan kaum perempuan di daerah,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ofa menyoroti pentingnya kepekaan wakil rakyat dalam menghadapi aksi unjuk rasa.
Ia menilai, para demonstran pada dasarnya hanya ingin menyampaikan aspirasi dan membutuhkan ruang dialog.
“Ketika ada rakyatnya yang melakukan aksi demonstrasi, walaupun jaraknya lumayan jauh antara gerbang dengan kantor wakil rakyat, setidaknya rakyat ini diterima dan ditanggapi lebih dulu oleh anggota dewan. Kami yakin para pendemo juga mau kok kalau diajak berdiskusi, mereka juga ingin ruang untuk menyampaikan aspirasi secara langsung,” ujarnya.
Menurut Ofa, sikap terbuka dan mau mendengar akan jauh lebih efektif dibandingkan menutup diri.
Hal itu sekaligus menghindarkan wakil rakyat dari citra arogan atau tidak peduli terhadap suara rakyat.
Secara khusus, Ofa menyoroti peran penting anggota dewan perempuan. Ia berharap para legislator perempuan bisa menjadi corong aspirasi yang lebih dekat dengan rakyat, terutama dalam isu-isu kesetaraan politik, perlindungan perempuan, dan penciptaan ruang aman di masyarakat.
“Khususnya kepada anggota dewan perempuan, sangat berperan penting untuk menyuarakan kepentingan para perempuan di daerah agar melek politik dan terciptanya ruang aman,” ucapnya.
Selain memperjuangkan isu perempuan, legislator perempuan juga dituntut untuk aktif mengawal regulasi agar sesuai dengan kebutuhan rakyat.
Ia menekankan bahwa wakil rakyat, baik laki-laki maupun perempuan, tidak boleh mengesampingkan suara masyarakat dalam proses pembuatan regulasi.
Ofa mengingatkan bahwa kekecewaan masyarakat terhadap wakil rakyat bisa berakibat fatal.
Ia menyinggung fenomena penjarahan yang terjadi di beberapa daerah, yang diyakini muncul akibat akumulasi kekecewaan rakyat terhadap para pemimpinnya.
“Kita sudah melihat banyaknya fenomena penjarahan yang terjadi akibat kekecewaan rakyat terhadap wakil-wakilnya yang duduk di kursi parlemen,” kata Ofa.
Ia menegaskan, KPPI tidak menginginkan kerusuhan sosial yang hanya menyisakan duka dan kerugian.
Karena itu, ia menyerukan agar setiap wakil rakyat benar-benar menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.
“Kami tidak menginginkan terjadinya kerusuhan yang menyisakan duka, maka dari itu, jalankan amanah rakyat ini dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.
Bagi Ofa, politik seharusnya dijalankan dengan orientasi membangun kepercayaan publik, bukan sekadar mempertahankan kekuasaan.
Dengan menjaga sikap, mengatur ucapan, dan membuka ruang dialog, ia percaya wakil rakyat bisa mengembalikan marwah politik yang kerap tergerus citra negatif.
“Wakil rakyat yang berasal dari daerah pilihan, khususnya Kota Serang, harus pintar-pintar memilah kata agar tidak jadi bumerang buat dirinya. Lebih dari itu, mereka harus benar-benar menunjukkan keberpihakannya kepada rakyat,” tandasnya. (ADV)

