GELUMPAI.ID – Plt Ketua Kaukus Politik Perempuan Indonesia (KPPI) Kota Serang, Musyarrofah, menyampaikan keprihatinannya atas maraknya kasus kekerasan seksual yang menimpa anak dibawah umur.
Ia menilai kondisi ini sangat memprihatinkan, terlebih pelaku tidak hanya dari luar rumah, melainkan juga berasal dari lingkungan keluarga.
“Berkaitan dengan kasus kekerasan seksual yang saat ini marak menimpa anak di bawah umur, tentunya miris, kami dari KPPI Kota Serang sangat miris mendengar berita ini. Karena memang marak sekali peristiwa kekerasan seksual terhadap anak, bukan hanya pelakunya adalah di luar rumah, tapi ternyata di dalam rumah pun itu terjadi,” ungkapnya.
Perempuan yang akrab disapa Ofa ini mengatakan, tak sedikit informasi yang diterimanya perihak kasus seorang anak dilecehkan oleh bapak kandungnya.
Selain miris, ia menekankan pentingnya pola asuh yang baik dan kesadaran orang tua terhadap parenting.
“Yang dikhawatirkan, pola asuh orang tua terhadap anak juga perlu diperhatikan, dan orang tua juga harus aware dan harus mau belajar tentang parenting untuk menghindari hal-hal seperti itu. Pencegahan sejak dini itu memang dari rumah, bagaimana orang tua memberikan pendidikan tentang seksual, tentang pergaulan, jangan sampai terjerumus dengan pergaulan bebas, apalagi sampai mengundang pelaku untuk bisa melakukan pelecehan seksual,” katanya.
Ofa juga menekankan pentingnya pendidikan seksual sejak dini.
Menurutnya, pendidikan seksual sejak dini sangat penting disampaikan kepada anak-anak usia mulai 2 tahun.
Ia menegaskan, hal itu menjadi kewajiban para orangtua memberikan pembekalan terkait mana saja bagian tubuh yang boleh disentuh dan mana yang tidak boleh disentuh, siapa yang boleh menyentuh dan siapa yang tidak boleh menyentuh.
“Artinya ada orang-orang yang boleh pegang area tertentu, ada juga yang tidak boleh, itu memang harus diberikan pengetahuan sejak dini. Sehingga mereka tahu ketika dipegang oleh orang asing, bagian tubuh yang sensitif, mereka tahu bahwa itu tidak boleh,” ujarnya.
Selain itu, Ofa menilai bahwa anak juga harus diberikan keberanian untuk berbicara.
Ia menekankan, anak harus diberikan keberanian untuk speak up, di mana keluarga harus ikut mendengarkan cerita anak.
“Jadi kalau anak cerita jangan bersikap bodoamat, tapi dengarkan. Karena memang dari situlah anak mau bercerita, mau speak up terkait hal-hal yang terjadi di anak ini, sehingga walaupun nanti ada kejadian hal-hal yang pelecehan atau kekerasan terhadap anak ini, mereka mau bilang minimal kepada orang tuanya. Anak tidak takut ngobrol,” tuturnya.
Menurutnya, anak bisa lebih terbuka apabila orangtuanya memberikan ruang agar anak merasa nyaman.
Ia pun menyadari bahwa setiap orangtua memiliki opsi parenting yang berbeda-beda, namun ia berpesan agar para orangtua dapat menekankan pendidikan seksual sejak dini, mengingat kondisi saat ini maraknya kasus kekerasan seksual yang bisa menimpa siapa saja dan di mana saja.
“Kami pada dasarnya menghormati bagaimana pun parenting yang dilakukan para orangtua, karena itu mereka ingin memberikan yang terbaik kepada anaknya. Tapi yang ingin kami tekankan adalah tolong anak diberikan pendidikan seksual sejak dini, sebagai upaya pencegahan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,” tandasnya. (ADV)

