Bola & Sports
Beranda » Bola & Sports » Leicester City Taklukan Ipswich di Laga Emosional Perpisahan Jamie Vardy

Leicester City Taklukan Ipswich di Laga Emosional Perpisahan Jamie Vardy

Panggung King Power Stadium pada Minggu (18/5) malam WIB menjadi saksi momen em osional sekaligus perayaan bagi seorang legenda. (cr/lcfc.com)

GELUMPAI.ID – Panggung King Power Stadium pada Minggu (18/5) malam WIB menjadi saksi momen emosional sekaligus perayaan bagi seorang legenda. Jamie Vardy, striker yang telah mengukir namanya dengan tinta emas dalam sejarah Leicester City, memainkan laga terakhirnya di hadapan publik sendiri dan menutupnya dengan cara yang tak mungkin lebih sempurna: mencetak gol ke-200 untuk klub dalam kemenangan 2-0 atas Ipswich Town.

Sorak sorai dan tepuk tangan membahana menyambut setiap sentuhan bola Vardy. Bendera-bendera bertuliskan “Thank you Vards” berkibar di seluruh penjuru stadion, dan spanduk-spanduk raksasa bergambar wajah sang striker terbentang, menandakan betapa besar rasa hormat dan cinta para suporter kepada pemain berusia 38 tahun tersebut.

Gol pembuka pada menit ke-28 menjadi klimaks dari malam perpisahan ini. Menerima umpan terobosan matang dari James Justin yang melakukan akselerasi gemilang dari tengah lapangan, Vardy dengan dingin mengecoh kiper Ipswich, Alex Palmer, dan menceploskan bola ke gawang. Selebrasi golnya pun disambut riuh rendah, bercampur haru dari para penggemar yang menyaksikan langsung momen bersejarah itu.

“Ini adalah cara yang sempurna untuk mengakhiri bab ini,” ujar seorang suporter setia Leicester, Budi, usai pertandingan.

“Vardy bukan hanya pemain, dia adalah simbol dari kebangkitan Leicester. Gol ke-200 ini adalah hadiah perpisahan yang tak ternilai harganya,” tambahnya.

Meski Kasey McAteer kemudian menambah keunggulan Leicester di babak kedua, fokus utama tetap tertuju pada Vardy. Saat ditarik keluar lapangan sepuluh menit menjelang bubaran, guard of honour dari rekan-rekan setim dan standing ovation dari seluruh stadion menjadi penghormatan terakhir bagi sang ikon. Air mata haru terlihat di wajah beberapa pemain dan suporter, menyadari bahwa era Vardy di Leicester telah berakhir.

Vardy, yang didatangkan dari klub non-liga Fleetwood Town pada tahun 2012 dengan biaya yang dianggap banyak orang sebagai sebuah perjudian, menjelma menjadi salah satu striker paling mematikan di Liga Primer Inggris. Ia adalah bagian penting dari skuad yang secara mengejutkan menjuarai Liga Primer Inggris pada musim 2015-2016, sebuah kisah dongeng yang akan terus dikenang dalam sejarah sepak bola. Selain itu, ia juga turut mempersembahkan gelar Piala FA dan Community Shield bagi The Foxes.

Kepergian Vardy meninggalkan lubang besar di lini depan Leicester, baik dari segi kualitas di lapangan maupun pengaruh di ruang ganti. Klub kini harus mencari sosok pengganti yang tidak hanya mampu mencetak gol, tetapi juga memiliki karisma dan jiwa kepemimpinan seperti Vardy.

Bagi Ipswich Town sendiri, kekalahan ini terasa pahit di tengah euforia perpisahan Vardy. Namun, mereka harus segera bangkit dan fokus pada persiapan musim depan di Championship, di mana mereka diprediksi akan menjadi salah satu kandidat kuat untuk promosi kembali ke Liga Primer Inggris, bersama dengan Leicester City yang juga memiliki ambisi serupa.

Malam di King Power Stadium itu menjadi penutup yang indah bagi perjalanan seorang legenda. Jamie Vardy telah menuliskan namanya dalam buku sejarah Leicester City, dan gol ke-200 di laga perpisahannya akan menjadi kenangan abadi bagi para penggemar The Foxes. Kini, tantangan baru menanti Leicester untuk membangun era baru tanpa sang pahlawan, namun warisan yang ditinggalkan Vardy akan terus menginspirasi generasi pemain dan suporter Leicester City di masa depan.