GELUMPAI.ID – Wacana libur sekolah selama sebulan penuh saat Ramadan mencuri perhatian. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyarankan ini, tapi masih dalam kajian. Hingga kini, Kementerian Pendidikan melalui Abdul Mu’ti masih mempertimbangkan keputusan tersebut.
Menanggapi wacana ini, psikolog anak dan keluarga Mira Damayanti Amir mengatakan, meliburkan sekolah selama Ramadan bukan hal baru. Namun, dampak bagi anak perlu dipertimbangkan.
“Tentu akan ada proses adaptasi atau penyesuaian diri ulang, baik bagi siswa maupun pihak lain yang terlibat,” ujar Mira kepada CNN Indonesia, Kamis (16/1). Menurutnya, masa liburan panjang ini dapat memengaruhi anak dalam berbagai aspek, terutama di kepribadian mereka masing-masing.
Untuk anak usia sekolah dasar, Mira khawatir terjadi separation anxiety saat mereka kembali ke sekolah setelah libur panjang. Ditambah, jam tidur yang berubah karena adaptasi dengan jam sekolah baru.
“Bisa terjadi separation anxiety, anak-anak mungkin merasa kesulitan berpisah dari orang tua,” jelasnya.
Jika wacana ini disetujui, Mira menyarankan agar guru tetap aktif memantau siswa. Salah satunya melalui tugas yang bisa dikerjakan di rumah selama liburan. “Tugas ini bisa disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan mata pelajaran yang relevan,” katanya.
Bagi siswa SMA dan setingkat, Mira merekomendasikan tugas berbentuk karya tulis atau proyek untuk menjaga produktivitas belajar.
Saran untuk orang tua: gunakan waktu libur untuk membangun ikatan dengan anak. Mulai dengan rutin menstimulasi mereka melalui permainan edukatif. “Selain pelajaran, bermain juga penting untuk stimulasi motorik dan kognitif anak,” ujar Mira.
Di sisi lain, penting untuk membatasi waktu layar (screentime) selama libur Ramadan. Sebagai alternatif, ajak anak membaca buku atau berolahraga.
“Libur Ramadan ini kesempatan baik bagi orang tua untuk membangun bonding dengan anak-anak,” ungkapnya.
Sumber: CNN Indonesia

