GELUMPAI.ID — Jumat Agung, yang jatuh pada Jumat (18/4), merupakan bagian dari Tri Hari Suci menjelang perayaan Paskah. Hari ini memiliki makna mendalam bagi umat Kristiani, sebagai peringatan pengorbanan Yesus Kristus untuk umat manusia.
Perayaan ini bukan hanya sekedar hari berkabung, tetapi juga momen untuk mengenang penderitaan dan kematian Yesus di salib. Umat Kristiani biasanya mengenakan pakaian serba hitam atau abu-abu sebagai tanda kesedihan.
Jumat Agung adalah pengingat bahwa Yesus rela mengorbankan diri-Nya demi keselamatan umat manusia. “Wafat Yesus adalah wafat satu orang bagi seluruh bangsa dan bahkan segala bangsa di semua tempat dan sepanjang zaman,” kata Emanuel Martasudjita, Pr., dalam bukunya “Aku, Kamu dan Adorasi.”
Ibadah Jumat Agung fokus pada kisah sengsara Yesus, dengan doa umat meriah dan penyembahan salib. Penyembahan salib sendiri merupakan simbol rasa hormat dan syukur umat terhadap kasih Allah yang besar.
Paus Benediktus XVI dalam ensikliknya menulis, “Tindakan (kasih) Allah mengambil bentuk dramatis dalam hal bahwa Allah dalam Yesus Kristus sendiri mencari ‘domba yang hilang’, umat manusia yang menderita dan hilang.” Wafat Yesus di salib menjadi bentuk kasih Allah yang paling radikal, yang membawa keselamatan bagi umat manusia.
Selain itu, liturgi Jumat Agung juga berbeda dari misa hari Minggu. Perayaan terdiri dari tiga bagian: ibadah sabda, penghormatan salib, dan penerimaan komuni. Pada waktu perayaan, yang biasanya berlangsung pada pukul 15.00, umat diberi kesempatan untuk menghormati salib secara pribadi setelah ibadah selesai.
Makna mendalam Jumat Agung mengingatkan kita akan pengorbanan terbesar dalam sejarah umat manusia, di mana Yesus memberikan diri-Nya di salib demi keselamatan umat-Nya.
Sumber: CNN Indonesia

