Bisnis & Ekonomi News
Beranda » Bisnis & Ekonomi » Manufaktur RI Bangkit! PMI Naik Lagi Setelah 5 Bulan Terpuruk

Manufaktur RI Bangkit! PMI Naik Lagi Setelah 5 Bulan Terpuruk

GELUMPAI.ID – Kabar baik untuk sektor manufaktur Indonesia di awal 2025! Data Purchasing Managers’ Index (PMI) dari S&P Global menunjukkan angka 51,2 untuk Desember 2024. Angka ini mengakhiri masa suram lima bulan kontraksi dan membawa manufaktur kembali ke jalur ekspansi. Bahkan, ini adalah pencapaian PMI tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Masa Kelam Lima Bulan Berakhir

Setelah sempat terpuruk dengan angka di bawah 50 sejak Juli hingga November 2024, manufaktur RI akhirnya keluar dari zona kontraksi. Sebelumnya, PMI berkisar di angka 49,3 hingga 49,6 selama periode tersebut, situasi yang mirip dengan awal pandemi Covid-19 ketika ekonomi sempat lumpuh.

Paul Smith, Direktur Ekonomi di S&P Global Market Intelligence, menyebutkan bahwa kembalinya PMI ke zona ekspansi adalah kabar menggembirakan. “Ini pertama kalinya kita melihat fase ekspansif sejak pertengahan tahun. Penjualan meningkat, begitu pula produksi. Harapannya, tren ini bisa terus berlanjut,” ujarnya.

S&P melaporkan kenaikan signifikan pada pesanan baru, baik domestik maupun ekspor. Bahkan, pesanan ekspor baru naik untuk pertama kalinya dalam hampir setahun. Produksi yang lebih tinggi ini juga diiringi optimisme perusahaan terhadap stabilisasi makroekonomi dan peningkatan daya beli klien di 2025.

Selain itu, para produsen memperkuat stok dengan meningkatkan aktivitas pembelian. Inventaris input dan barang jadi terlihat tumbuh moderat, mencerminkan kepercayaan produsen terhadap prospek pertumbuhan dalam beberapa bulan mendatang.

Pasar Tenaga Kerja Kembali Bergeliat

Fakta lain yang menggembirakan adalah penambahan staf pada Desember. Ini adalah pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir perusahaan membuka lapangan kerja baru, meski pertumbuhannya masih tergolong marginal.

Namun, ada catatan. Tekanan biaya input sedikit meningkat, terutama karena penguatan dolar AS yang memengaruhi harga barang impor. Untuk menutup margin, perusahaan menaikkan harga output untuk bulan ketiga berturut-turut, dengan inflasi moderat yang tercatat sebagai yang tertinggi sejak Agustus 2024.

Dengan perbaikan kondisi pasar, proyeksi manufaktur Indonesia di 2025 terlihat cerah. Mayoritas perusahaan mengantisipasi peningkatan produksi dan pendapatan, berkat stabilisasi ekonomi yang lebih baik. Bagi Indonesia, ini adalah awal baru yang menjanjikan di sektor manufaktur.

Laman: 1 2