GELUMPAI.ID — Kemenangan Max Verstappen di GP Jepang menjadi bukti keunggulan strategi Red Bull yang tak terbantahkan.
Tak banyak yang menyangka dominasi McLaren akan runtuh secepat ini. Padahal, performa mereka di Australia dan Tiongkok terlihat nyaris tak tersentuh.
Namun Verstappen membalik prediksi. Ia merebut pole position dengan rekor lap baru dan mengendalikan balapan sejak awal hingga akhir.
Lando Norris sempat mendekat di lap 22, berkat pitstop yang lebih cepat. Ia bahkan sejajar dengan Verstappen usai keluar dari pitlane.
Sayangnya, Norris kehilangan momentum karena melaju terlalu lebar dan melewati rumput.
Data menunjukkan Norris kehilangan tujuh persepuluh detik di outlap dibanding Verstappen. Selisih keduanya melebar dari 1,3 detik menjadi hampir 2,1 detik selama fase pitstop.
Setelah itu, Verstappen tinggal menjaga ritme hingga finis. Sementara Norris harus berjibaku menahan Oscar Piastri sebelum akhirnya aman di posisi dua.
Kemenangan Verstappen memang layak diapresiasi. Namun, strategi konservatif McLaren turut andil dalam kegagalan mereka merebut posisi puncak.
Andrea Stella, bos tim McLaren, mengakui balapan sejatinya telah ditentukan sejak sesi kualifikasi.
“Balapan sebenarnya selesai sejak hari Sabtu, saat Verstappen ambil pole dengan cara yang luar biasa,” ujarnya.
Di sirkuit seperti Suzuka, posisi start sangat menentukan. Tapi banyak yang mempertanyakan mengapa McLaren tidak mengambil langkah berani untuk mengubah nasib.
McLaren sempat memberi prioritas pitstop ke Piastri untuk mengantisipasi George Russell yang mengganti ban ke tipe hard.
Namun keputusan itu mengorbankan peluang Norris untuk menyalip Verstappen.
Meski belum tentu berhasil, menghentikan Norris lebih awal bisa jadi opsi lebih agresif. Sebab pitting bersamaan dengan pemimpin balapan hampir selalu berujung pada hasil yang stagnan.
Fakta menarik, outlap Piastri satu detik lebih cepat dari Verstappen. Ini menunjukkan betapa kuatnya potensi undercut di Suzuka.
Alternatif lain yang bisa dicoba McLaren adalah membiarkan Norris lebih lama di stint pertama, seperti strategi Hamilton dan Antonelli.