Oleh: Ais Komarudin
Direktur Sahabat Nurani
Sudah lebih dari 2 Minggu mereka tinggal di tenda tenda sederhana atau lebih jujur sangat jauh dari kata layak. Hujan terus mengguyur, longsoran tanah mengintai setiap saat.
Gempa susulan terus bertautan di setiap saat, kewaspadaan, was-was adalah perasaan yang terus hadir di setiap warga Penyintas gempa.
Bukan waktu yang singkat 2 Minggu lebih tinggal di tenda dengan cuaca tak menentu, asupan makanan hanya seadanya, mie, telor, dan sebaliknya.
Sampai kapan imun tubuh itu kuat mengadaptasi keadaan, bukan hanya psikis fisik pun mulai merasakan dampaknya.
Sepanjang kunjungan saya ke tenda-tenda hari ini sambil mengirimkan sejumput nasi dengan lauk sederhana, dari pintu ke pintu tenda, saya menemukan wajah wajah lelah, layu, batuk-batuk tak henti, seakan mengisyaratkan memang tidak nyaman tinggal di tenda.
Tapi semua harus di jalani, namun apakah sudah ada tenaga medis yang terus memantau? Wallahu alam. Tenaga medis sangat terbatas, sementara bukan hanya di sekitaran kota, ribuan pengungsi pun berada di wilayah yang sulit di jangkau.
Wahai para tenaga medis dari seluruh penjuru Nusantara saatnya hadir seragam mu saat berada di depan mata mereka sudah menjadi vitamin yang tiada tara.
Karena tidak semua orang atau seperti saya mewakili pekerjaan kalian, hayu terbangun kita jelajah bersama, dari pintu ke pintu kita seka air mata mereka, kita sapa dengan hangat dan peluk erat, sungguh mereka menanggung beban teramat berat.
Sahabat Nurani Memanggil…
Bukan seberapa besar bantuan yang kalian bisa berikan, tapi seberapa dahsyat kehadiran kalian membersamai mereka dalam bingkai kepedulian.
Ini bukan kemah…
Ini bukan traveling..
Ini juga bukan jelajah alam..
Mereka terpisah dari rumah..
Kehangatan seperti yg kita rasakan..
Mereka masih tidak terpikir membangun rumah, membersihkan puing puingnya saja teramat berat, saya menduga mereka hanya meminta kalian, kita hadir sesuai kapasitas berbuat untuk mereka dan menyemangati untuk bangkit bersama.
Terakhir. Dimanakah kita saat mereka menjerit menanti kehadiran kita?
Sahabat Nurani, Untuk Sahabat Sejati