GELUMPAI.ID — Acara peluncuran fitur terbaru Copilot milik Microsoft mendadak kacau setelah seorang perempuan berjilbab menerobos panggung dan memprotes penggunaan teknologi AI perusahaan tersebut dalam konflik Gaza.
Mustafa Suleyman, CEO Microsoft AI, saat itu tengah menyampaikan presentasi penuh semangat soal kemampuan baru Copilot yang disebutnya sebagai “pendamping digital masa depan.”
Tiba-tiba, seorang perempuan maju ke atas panggung sambil berteriak lantang.
“Kalian mengklaim ingin menggunakan AI untuk kebaikan, tapi Microsoft menjual senjata AI ke militer Israel. 50.000 orang sudah meninggal,” teriaknya.
Dengan mengenakan syal kotak-kotak khas Palestina, perempuan itu terus bersuara lantang di depan Suleyman.
“Seluruh Microsoft berlumur darah. Bagaimana kalian bisa merayakan ini saat Microsoft membunuh anak-anak? Malu kalian!”
Tak lama setelahnya, perempuan tersebut diidentifikasi sebagai Ibtihal Aboussad, seorang karyawan Microsoft yang telah bekerja sebagai engineer selama tiga setengah tahun.
Meski petugas keamanan segera menggiringnya keluar panggung, suara Aboussad masih terdengar di seluruh tenda besar tempat acara berlangsung.
Suleyman tampak tenang dan hanya menjawab singkat, “Saya dengar protesmu.”
Tak berhenti di situ, sekelompok kecil pengunjuk rasa — sekitar 30 orang — juga masuk ke kawasan kantor pusat Microsoft di Redmond, Washington.
Suara mereka meneriakkan “Free Free Palestine” dan dentuman drum menggema hingga ke dalam tenda tempat acara berlangsung.
Di tengah kekacauan tersebut, Microsoft tetap melanjutkan rangkaian acara, termasuk sesi bincang santai dengan dua pengguna Copilot dan anjing Newfoundland berbulu lebat milik salah satunya.
Presentasi tersebut juga menjadi bagian dari perayaan 50 tahun berdirinya Microsoft. Hadir pula tokoh-tokoh penting seperti Satya Nadella, Bill Gates, dan Steve Ballmer.
Nadella menyebut Copilot sebagai evolusi hubungan manusia dengan teknologi. Menurutnya, ini bukan sekadar chatbot, melainkan asisten digital yang “mengenal siapa kamu sebenarnya.”

