GELUMPAI.ID — Seorang anak Palestina yang kehilangan kedua tangannya dalam serangan drone Israel tahun lalu, yang fotonya memenangkan penghargaan World Press Photo 2025, mengaku kesulitan beradaptasi setelah tragedi tersebut.
Mahmoud Ajjour, 9 tahun, yang kini menerima perawatan di Doha, Qatar, mengenang ledakan yang menghancurkan rumahnya pada Maret 2024.
Awalnya, Ajjour mengira ia hanya terjatuh. “Saya kira saya jatuh. Tapi saya tergeletak di tanah, kelelahan, dan bingung,” katanya.
Namun, kenyataannya, satu tangan “terbang” dan satu lagi “jatuh di sebelah saya,” tambahnya. Saat itu, ia tidak menyadari bahwa dirinya terluka parah.
Ajjour kemudian melihat tangannya yang hancur. Meskipun tampak familiar, otaknya belum bisa menerima kenyataan bahwa tangannya telah hilang.
“Ibu saya lalu memberitahu saya bahwa saya kehilangan tangan,” katanya. “Saya menangis. Saya sangat sedih, dan mental saya sangat buruk.”
Proses pemulihan mentalnya semakin tertekan karena ia harus menjalani operasi tanpa bius karena kekurangan pasokan medis di Gaza. Selama perang, pasukan Israel menutup sebagian besar jalur perbatasan, menghalangi masuknya bantuan medis dan makanan.
“Mereka melakukan operasi saat saya sadar,” kata Ajjour dengan suara yang masih terguncang. “Rasa sakitnya sangat luar biasa, saya berteriak sangat keras. Suara saya terdengar di seluruh rumah sakit.”
Ajjour kini belajar menggunakan kaki untuk menulis, bermain ponsel, dan berpakaian, meskipun masih membutuhkan bantuan untuk banyak kegiatan sehari-hari.
Ia merindukan masa ketika kedua tangannya masih utuh. Sebelum serangan, ia biasa pergi ke pasar untuk membeli makanan dan sayuran untuk ibunya. “Sekarang, semuanya sulit, termasuk makan dan pergi ke kamar mandi… tapi saya coba sebaik mungkin,” ujarnya.
Ajjour berharap bisa kembali ke Gaza suatu hari nanti dan membantu membangun kembali tanah kelahirannya. Ia juga berharap dunia bisa “mengakhiri perang di Gaza”. “Kami ingin hidup di tanah kami. Kami tidak ingin orang Israel merebutnya,” kata Ajjour. “Orang-orang mati di sana. Rumah saya dibom. Bagaimana saya bisa hidup seperti ini?”

