GELUMPAI.ID – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) melaporkan kondisi sektor jasa keuangan di wilayah DKI Jakarta dan Banten tetap solid hingga pertengahan tahun 2025.
Ketahanan sektor ini ditopang oleh pertumbuhan positif di bidang perbankan, pasar modal, serta industri keuangan non-bank (IKNB), ditambah penguatan ekonomi daerah dan meningkatnya pelindungan konsumen.
OJK juga mencatat peningkatan signifikan jumlah investor pasar modal di kedua wilayah. Di Banten, tercatat 931.990 investor, naik 19,01 persen (yoy), dengan Kota Tangerang menjadi kontributor terbesar.
“Nilai transaksi saham di DKI Jakarta mencapai Rp179,99 triliun, sementara di Banten meningkat menjadi Rp20,49 triliun. Kenaikan transaksi di Banten mencerminkan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam investasi dan literasi keuangan,” jelas Kepala OJK Jabodebek, Edwin Nurhadi.
Ia mengatakan, bahwa stabilitas sektor keuangan di kedua wilayah ini sejalan dengan tren pertumbuhan nasional.
“Kinerja fungsi intermediasi perbankan terus tumbuh dengan kualitas kredit yang terjaga. Ini menjadi indikator kuat bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan tetap tinggi,” ujarnya.
Di DKI Jakarta, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat mencapai Rp5.058,34 triliun atau naik 12,34 persen (yoy), menandakan likuiditas yang stabil.
Penyaluran kredit/pembiayaan juga tumbuh 9,75 persen (yoy) menjadi Rp4.216,65 triliun, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di level 1,60 persen.
Kredit modal kerja mendominasi dengan porsi hampir 50 persen.
Sementara di Provinsi Banten, DPK tumbuh 4,89 persen (yoy) menjadi Rp303,20 triliun, dan penyaluran kredit naik 3,55 persen (yoy) mencapai Rp220,22 triliun, dengan NPL 2,30 persen.
Kredit konsumsi menjadi penyumbang terbesar, yaitu 53,27 persen.
Sektor rumah tangga menjadi penerima kredit terbesar di Banten, dengan porsi 50,59 persen, disusul sektor perdagangan besar dan eceran (11,98 persen), serta industri pengolahan (11,39 persen).

