GELUMPAI.ID – Kementerian Perindustrian terus berupaya meningkatkan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) sektor otomotif melalui program percepatan transformasi digital. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah kolaborasi dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).
Upaya tersebut direalisasikan melalui kegiatan “Kick Off Match Making between Small and Medium Automotive Industry and System Integrator in the Framework of Cooperation between Directorate General of Small, Medium, and Multifarious Industry and Japan International Cooperation Agency (JICA)” di Gedung Kemenperin, Jakarta pada 25 Februari 2025.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Reni Yanita memberikan apresiasi kepada pemerintah Jepang melalui JICA atas komitmennya untuk mendukung pengembangan industri otomotif Indonesia. “Kami mengapresiasi Pemerintah Jepang melalui JICA atas dukungannya dalam peningkatan kualitas dan produktivitas IKM untuk lebih berdaya saing, unggul dan inovatif,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (27/2).
JICA merupakan lembaga pemerintah Jepang yang bertanggung jawab atas kerja sama pembangunan internasional. Sebagai bagian dari kebijakan bantuan luar negeri Jepang dan bentuk sinergi dengan Kemenperin, JICA berperan dalam berbagai inisiatif, termasuk pengembangan industri manufaktur, digitalisasi, serta peningkatan daya saing IKM.
Reni menjelaskan, kegiatan Kick Off Match Making merupakan bagian dari proyek kerja sama teknis “Automotive Industry Development” yang dilaksanakan JICA dengan Kemenperin melalui Ditjen IKMA, yang bertujuan mempertemukan IKM komponen otomotif (supplier) yang merupakan tier 2 atau tier 3 APM dengan System Integrator (SIers) atau Tech Startup dalam upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri otomotif nasional di era industri 4.0.
“Kami ingin mendorong digitalisasi dan otomatisasi pada IKM komponen otomotif agar lebih kompetitif dan inovatif melalui penerapan teknologi 4.0 yang akan meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” ucapnya.
IKM komponen otomotif juga perlu memenuhi standar quality, cost, and delivery (QCD) agar dapat masuk ke dalam rantai pasok industri. “Hal tersebut bisa diwujudkan dari kontribusi seluruh pihak terkait, baik stakeholders dalam maupun luar negeri,” lanjut Reni.
Pada 4 April 2018 lalu, pemerintah telah meresmikan peta jalan “Making Indonesia 4.0” sebagai kesiapan Indonesia memasuki era industri 4.0 dan sebagai langkah strategis dalam mendukung penguatan industri nasional pada era industri 4.0. “Peta jalan tersebut memacu performa prima sektor manufaktur, salah satunya ditunjukkan dengan kontribusi sektor manufaktur yang mencapai 18,98 persen terhadap PDB nasional pada tahun 2024,” ungkap Reni.
Dirjen IKMA mengatakan, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam lima tahun ke depan, pemerintah mengambil langkah kebijakan melalui peningkatan investasi dan ekspor. Langkah ini bertujuan memperkuat industri manufaktur, rantai pasok, dan substitusi impor.
Nilai investasi di sektor industri manufaktur tahun 2024 mencapai Rp721,2 triliun atau sebesar 42,1 persen terhadap realisasi investasi nasional, naik 19,8 persen (year on year). Angka ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Indonesia serta potensi besar sektor manufaktur dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pencapaian tersebut semakin diperkuat dengan peningkatan implementasi transformasi digital pada lini bisnis perusahaan industri. Langkah ini akan mendorong IKM menjadi lebih kompetitif, produktif, dan inovatif, sehingga memberikan dampak positif bagi pertumbuhan industri dalam jangka pendek, menengah, dan panjang,” lanjutnya.