GELUMPAI.ID – Pusat Studi dan Informasi Regional (Pattiro) Banten menyoroti langkah Pemkot Serang yang akan mengambil utang untuk menutupi defisit yang akan terjadi pada tahun 2026 nanti.
Mereka menilai langkah tersebut terlalu gegabah. Padahal, banyak hal yang dapat dilakukan oleh Pemkot Serang untuk mencegah terjadinya defisit besar di tahun 2026 mendatang.
Demikian disampaikan oleh Pegiat Pattiro Banten, M. Sopyan. Ia mengatakan bahwa rencana pengambilan pinjaman daerah atau utang itu, terlalu gegabah untuk dilakukan.
“Kami menilai Pemkot Serang terlalu gegabah untuk mengambil utang. Kami harap Pemkot jangan gegabah dan lebih mengedepankan intensifikasi ketimbang ekstensifikasi,” ujarnya, Senin 4 Agustus 2025.
Menurutnya, tanpa mengambil utang pun, Pemkot Serang sebetulnya bisa melakukan banyak pembangunan tanpa terjadi defisit anggaran yang besar.
Hal itu karena saat ini, banyak potensi pendapatan yang dinilai diabaikan, juga potensi kebocoran pendapatan yang dinilai lama dibiarkan begitu saja.
“Intensifikasi itu kan di dalamnya ada pemaksimalan pendapatan potensial yang sudah ada, dengan menutupi kebocoran-kebocoran. Saat ini belum dilakukan oleh Pemkot Serang,” ucapnya.
Ia menuturkan, aturan baru mengenai opsen pajak sudah mulai berjalan. Seharusnya, aturan tersebut juga dimaksimalkan untuk membiayai pembangunan di Kota Serang.
“Hasil riset kami menemukan bahwa opsen pajak ini dapat mendongkrak pendapatan hingga Rp75 miliar untuk Kota Serang,” katanya.
Di sisi lain, kebocoran yang terjadi pun cukup memprihatinkan. Sehingga, upaya menambal kebocoran tersebut perlu dilakukan untuk menjadi sumber pendanaan tambahan bagi pembangunan Kota Serang.
“Kami melihat ada potensi kebocoran di sejumlah sektor. Ini perlu untuk segera diantisipasi agar pendapatan meningkat,” terangnya.
Selain memaksimalkan potensi pendapatan daerah, Pemkot Serang juga diminta agar memastikan belanja yang dilakukan berjalan secara efektif.
Sebab hasil dari penelitian pihaknya, penggunaan anggaran belanja Pemkot Serang tidak memberikan dampak yang signifikan.

