GELUMPAI.ID – Para pelaku sektor pariwisata di Bali, terutama yang terlibat dalam sektor MICE (meetings, incentives, conventions, and exhibitions), mulai mengeluh akibat pemotongan anggaran yang dilakukan oleh pemerintah.
Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menyatakan bahwa banyak pemesanan hotel yang dibatalkan akibat hal tersebut.
“Banyak dibatalkan bookingan rencana rapat-rapat yang ada di daerah, utamanya terhadap wisatawan MICE. Dan sampai sedikit ekstrem, banyak yang bilang ke saya akan mengurangi pekerja (PHK) di MICE karena meetingnya berkurangan,” ujar Rai Suryawijaya dikutip dari LambeTurah.co.id pada Selasa (25/2/2025).
“Kita mempunyai strategi ketika kehilangan market wisatawan MICE ini dari pemerintah karena efisiensi anggaran, kita sekarang lagi melobi-lobi internasional, melobi event-event itu agar bisa diselenggarakan di Bali khususnya dan di Indonesia,” sambungnya.
Para pengusaha pariwisata tidak hanya melobi secara bisnis dengan pelaku usaha luar negeri, tetapi juga menjalin hubungan dengan kalangan pemerintah seperti Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan maskapai penerbangan untuk menambah jumlah penerbangan langsung ke Bali.
Menurut seorang pengusaha yang telah bekerja selama 40 tahun di sektor pariwisata, ini adalah saat yang krusial untuk memenuhi standar dunia dalam sektor wisata MICE. Ia menjelaskan bahwa target pemerintah untuk tahun 2025 adalah mencapai 16 juta wisatawan internasional yang berkunjung ke Indonesia. Namun, meskipun target untuk tahun 2024 sebesar 14 juta, kenyataannya hanya tercapai 13,7 juta. Hal ini dianggap dilematis, karena meskipun target ditingkatkan, anggaran justru mengalami pemotongan.

