News
Beranda » News » Pemberitahuan Deportasi Pecah Belah Keluarga Kashmir

Pemberitahuan Deportasi Pecah Belah Keluarga Kashmir

GELUMPAI.ID — Bashir Ahmad Najar hidup dalam ketakutan di Bandipora, Kashmir yang dikuasai India.

Pria 48 tahun ini menghuni gubuk sederhana dari seng dan kayu lapis.

Ia kembali ke Kashmir pada 2011 bersama istri dan dua putrinya dari Pakistan.

Kebijakan rehabilitasi 2010 memungkinkan mantan militan seperti Najar pulang dengan aman.

Kehidupan Najar damai meski pendapatannya pas-pasan.

Ia juga harus membiayai pengobatan kanker istrinya, Zahida Begum.

Namun, ketenangan itu hancur pekan lalu.

Zahida dan kedua putrinya yang lahir di Pakistan menerima pemberitahuan deportasi.

Polisi menyerahkan surat deportasi ke keluarga Najar.

Kebijakan ini bagian dari penurunan hubungan diplomatik India-Pakistan.

Serangan di Pahalgam pada 22 April, yang menewaskan 26 warga, memicu ketegangan.

Pakistan membantah tuduhan keterlibatannya dalam serangan tersebut.

Menurut laporan dari The Jerusalem Post, lebih dari 150 perempuan Pakistan di Kashmir terancam deportasi.

Sebanyak 786 warga Pakistan dan tanggungan mereka telah meninggalkan India.

Zahida memiliki nomor identitas India, hak suara, dan sertifikat domisili Kashmir.

“Ini pemisahan yang tak tertahankan,” kata Najar kepada Middle East Eye.

“Lebih baik mereka membunuh kami,” tambahnya.

Yousuf Tarigami, anggota parlemen Kashmir, menyebut deportasi ini tidak manusiawi.

“Perempuan-perempuan ini telah membangun kehidupan di sini,” tulisnya di X.

Imran Nabi Dar dari Partai Konferensi Nasional menilai perempuan ini tak bersalah.

“Mereka telah mematuhi setiap hukum,” ujar Dar.

Di Bandipora, 20 keluarga menerima pemberitahuan deportasi.

Mohammad Ramzan Wani, warga Nadihal, juga menghadapi situasi serupa.

“Pekan lalu, polisi datang dengan surat yang meminta istri dan anak-anakku pergi,” kata Wani.

Asmat, istrinya, mengaku takut anak-anaknya terancam di Pakistan.

“Lebih baik mereka membunuh kami di sini,” ucapnya.

Wani khawatir anak-anaknya terlibat konflik atau narkoba di Pakistan.

“Siapa yang akan menjaga anakku?” tanyanya.

Najar dan Wani berharap keajaiban menyelamatkan keluarga mereka.

Laman: 1 2