GELUMPAI.ID – Lagi-lagi, SMAN 4 Kota Serang menjadi sorotan. Setelah curhatan alumni Tito Tri Kadafi viral, kini muncul lagi pengakuan siswa yang tak kalah mengejutkan.
Mereka menyuarakan adanya dugaan pungutan liar (pungli), diskriminasi, hingga pelecehan seksual yang didiamkan oleh pihak sekolah.
Salah satu siswa menyebut adanya sistem sumbangan wajib harian yang mereka sebut sebagai One Day One Thousand ‘ODOT’, senilai Rp1.000 per siswa.
Namun, uang yang dianggap “jelek” bahkan ditolak oleh pemegang kas ODOT dan dikembalikan ke siswa.
“Kalau uangnya jelek, itu nggak diterima. Padahal masih layak pakai,” ucap salah satu siswa yang dijumpai oleh GELUMPAI.ID.
Ironisnya, meski ODOT ini ditarik setiap hari dari sekitar 47 siswa per kelas, penggunaan dananya disebut tidak jelas.
Salah satu siswa menyebut bahwa dana ODOT diklaim digunakan untuk pembangunan masjid dan keperluan kesiswaan.
“Katanya 60–70 persen untuk masjid, sisanya untuk eskul. Tapi sampai sekarang masjid belum 100 persen jadi, dan ekstrakurikuler nggak pernah dibiayai,” tuturnya.
Lebih parah, ketika siswa mengajukan dana untuk mengikuti lomba atau kegiatan ekstrakurikuler, mereka kerap mendapat jawaban “tidak ada dana dari sekolah”.
Tak hanya persoalan uang, siswa ini mengungkap dugaan kasus pelecehan seksual yang disebut sudah berlangsung lama, bahkan disebut melibatkan oknum guru PJOK.
“Kalau olahraga, kami cewek-cewek sampai takut. Harus nutup kerudung rapat-rapat, karena banyak yang was-was. Terutama dari anak IPS,” kata siswa lain.
Beberapa nama guru disebut, termasuk diduga guru aktif, serta dugaan keterlibatan guru lain dari kelas 10 hingga kelas 12 dalam tindakan tak senonoh.
“Kasus pelecehan ini udah lama. Di kelas 12 kemarin juga ada,” ujar siswa lainnya.
Pernyataan demi pernyataan yang bermunculan dari siswa dan alumni semakin memperkuat bahwa kasus ini bukanlah peristiwa tunggal.
Mereka mengaku baru berani speak up karena melihat banyak rekan yang mengalami hal serupa.

