Bisnis & Ekonomi News
Beranda » News » Pertumbuhan Ekonomi Banten Tertinggi Kedua di Jawa, Ungguli Nasional

Pertumbuhan Ekonomi Banten Tertinggi Kedua di Jawa, Ungguli Nasional

GELUMPAI.ID – Pertumbuhan ekonomi Banten pada triwulan II 2025 menunjukkan kinerja impresif yang melampaui rata-rata nasional dan regional Jawa.

Deputi Kepala Perwakilan BI Banten, Rawindra Ardiansah, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Banten mencapai 5,33 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,19 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Banten, lebih baik daripada nasional maupun regional Jawa. Meneruskan perkembangan yang di triwulan I, triwulan II juga lebih tinggi dari nasional. YoY 5,3 persen, nasional 5,12 persen. Jawa 5,24 persen,” ungkap Rawindra, pada Kamis 7 Agustus 2025.

Dengan capaian tersebut, Banten menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Jawa, setelah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kinerja ini ditopang oleh sektor industri pengolahan, konstruksi, serta real estate yang mencatat pertumbuhan signifikan.

“Perekonomian kita Banten triwulan II ditunjang oleh sektor industri pengolahan. Industri pengolahan tumbuh sekitar 4,82 persen. Secara pangsa, industri pengolahan pangsanya paling besar kalau dari sisi penawaran. Dia tumbuh walau tumbuhnya 4,28 persen. Kedua perdagangan, tumbuh tapi di bawah triwulan sebelumnya. Konstruksi tumbuh lumayan besar. Ada kaitannya di industri pengolahan,” jelasnya.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan didorong oleh peningkatan investasi, baik dari penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN). PMDN tumbuh 5,7 persen dan PMA mencapai Rp9,6 triliun.

“Investasi ini menjadi penunjang perekonomian Banten, tumbuh baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri,” katanya.

Investasi juga didukung oleh proyek strategis nasional seperti pembangunan Tol Serang–Panimbang yang turut mendorong akselerasi pertumbuhan. Secara total, investasi di Banten tumbuh sebesar 3,9 persen.

Meskipun konsumsi rumah tangga dan ekspor tetap tumbuh, keduanya mengalami perlambatan.

Sementara itu, konsumsi pemerintah melanjutkan tren kontraksi sejak triwulan sebelumnya.