Menstabilkan sektor properti, yang pada puncaknya menyumbang 25% dari ekonomi China, akan menjadi kunci jika Beijing ingin mencapai target pertumbuhan sekitar 5% pada tahun depan, yang menurut Reuters telah disarankan oleh para penasihat kebijakan.
Perkiraan Pertumbuhan dan Stimulus
Survei Reuters baru-baru ini memprediksi pertumbuhan ekonomi China sebesar 4,5% tahun depan, dengan tarif AS baru yang dapat mengurangi hingga satu poin persentase dari angka pertumbuhan tersebut.
Pada hari Senin, Moody’s Ratings meningkatkan proyeksi pertumbuhan GDP China menjadi 4,2% dari sebelumnya 4% untuk tahun 2025.
Pada Konferensi Kerja Ekonomi Pusat (CEWC) pekan lalu, yang sangat dinanti-nanti, para pemimpin China berjanji untuk meningkatkan defisit anggaran, mengeluarkan lebih banyak utang, dan menjadikan dorongan konsumsi sebagai prioritas utama.
Pernyataan ini juga sejalan dengan komitmen yang diambil oleh pejabat tinggi Partai Komunis China sebelumnya bulan ini, yang mendukung kebijakan moneter yang “cukup longgar” sebagai pelonggaran pertama dalam 14 tahun terakhir.
Ekspektasi Stimulus dan Tantangan Ekspor
“Kami pikir pelambatan pada bulan November kemungkinan hanya bersifat sementara, dengan pertumbuhan yang diperkirakan akan kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang seiring dengan terus meningkatnya dukungan kebijakan,” kata Julian Evans-Pritchard, kepala ekonomi China di Capital Economics.
“Tapi kami meragukan bahwa stimulus dapat memberikan lebih dari sekadar perbaikan sementara, terutama karena kekuatan permintaan ekspor yang ada saat ini kemungkinan tidak akan bertahan lama begitu Presiden Trump mulai mengimplementasikan ancaman tarifnya,” tambah Evans-Pritchard.

