News
Beranda » News » PLT Presiden Korsel, Han Duck-soo Serukan Persatuan Nasional di Hari Peringatan 19 April

PLT Presiden Korsel, Han Duck-soo Serukan Persatuan Nasional di Hari Peringatan 19 April

GELUMPAI.ID — Pelaksana Tugas Presiden Han Duck-soo menyerukan persatuan nasional pada Sabtu, untuk mengatasi krisis ekonomi dan sosial, seiring dengan peringatan peristiwa pemberontakan pro-demokrasi 1960 yang mengarah pada pengunduran diri Presiden Korea Selatan pertama, Rhee Syng-man.

Han menyampaikan seruannya dalam acara peringatan di Pemakaman Nasional 19 April di Seoul utara, tempat para pahlawan yang gugur dalam pemberontakan tersebut dimakamkan.

Ia menyebutkan bahwa “revolusi rakyat yang sukses” menjadi dasar bagi demokrasi negara tersebut, namun negara yang diwariskan kepada generasi mendatang harus lebih makmur, toleran, dan harmonis.

“Masih ada banyak tantangan dan dilema di depan kita,” ujar Han, merujuk pada risiko geopolitik dan pergeseran tatanan ekonomi global di luar, serta perpecahan sosial di dalam negeri.

“Namun, jika rakyat kita bersatu, kita dapat mengatasi semua kesulitan ini,” tambahnya.

“Saya yakin kunci utama untuk mengatasi krisis adalah persatuan yang menggabungkan potensi rakyat menjadi satu.”

Han juga menegaskan bahwa tidak ada yang mustahil melalui dialog dan kerjasama berdasarkan kesadaran sipil yang matang.

Pemerintah akan secara aktif berupaya menyelesaikan kesulitan di setiap sektor, termasuk ekonomi, kesejahteraan rakyat, respons bencana, dan keamanan nasional, sambil menanggapi isu perdagangan global yang mendesak.

“Kami akan mengarahkan semua energi kami untuk mengubah potensi rakyat menjadi energi untuk pembangunan nasional, sambil menyelesaikan konflik sosial melalui dialog dan kerjasama,” tambah Han.

Pemberontakan 19 April dipicu oleh kemarahan publik atas kecurangan pemilu dalam pemilihan presiden oleh pemerintah Rhee yang sedang berkuasa saat itu.

Serangkaian unjuk rasa mahasiswa di seluruh negeri mencapai puncaknya pada 19 April, dengan ratusan demonstran yang tewas atau terluka dalam bentrokan dengan polisi bersenjata.

Pemberontakan ini akhirnya memaksa Rhee untuk mundur setelah 12 tahun menjabat.

Sumber: Korea Times