Di India, dilaporkan setiap 17 menit terjadi kasus pemerkosaan, data pemerintah menunjukkan. Meski sudah ada perubahan pada hukum pemerkosaan setelah kasus pemerkosaan dan pembunuhan di bus pada 2012, Ghosh mengatakan bahwa perempuan di India masih mengalami pelecehan seksual setiap hari.
Nazifa Jannat, seorang aktivis dari Bangladesh, juga merasakan hal serupa. “Setiap kali berjalan di jalanan, kamu selalu merasa ada yang memperhatikanmu, baik di pasar yang ramai atau jalanan sepi,” katanya.
Peran Perempuan dalam Gerakan Sosial
Menurut Deanne Uyangoda, Koordinator Perlindungan Asia Pasifik untuk NGO Front Line Defenders, meski perempuan sudah lama menjadi bagian penting dari gerakan protes di Asia Selatan, peran mereka dalam menciptakan ruang protes, mengorganisasi, serta membangun kepercayaan kini semakin terlihat jelas.
Di Pakistan, salah satu aktivis yang menonjol adalah Sammi Deen Baloch. Baloch mulai terlibat dalam perjuangan sejak kecil setelah ayahnya yang seorang dokter hilang secara paksa pada 2009. Kini, ia menjadi salah satu wajah dari gerakan melawan penghilangan paksa di Balochistan.
Wilayah ini, yang merupakan provinsi terbesar di Pakistan, kaya akan sumber daya alam dan juga rumah bagi pelabuhan strategis Gwadar. Namun, banyak warga yang merasa mereka dipersekusi oleh pemerintah serta kekuatan militer dan paramiliter di wilayah tersebut.
Pada September saja, tercatat ada 43 kasus penghilangan paksa di Balochistan, seperti yang dilaporkan oleh Dewan Hak Asasi Manusia Balochistan.
Ancaman dan Intimidasi Terhadap Aktivis Perempuan
Baloch sendiri pernah diculik oleh badan intelijen Pakistan dan ditahan selama tujuh hari. Selama penyiksaan itu, ancaman kekerasan seksual terus disampaikan kepadanya sebagai bentuk pelemahan gender. “Mereka ingin membuat wanita merasa lebih lemah,” katanya.
Pemerintah Pakistan menggunakan banyak alat penindasan terhadap para aktivis, termasuk pemanfaatan kamera pengawas di sekitar lokasi protes, dan intimidasi melalui ancaman seksual serta serangan karakter terhadap perempuan yang terlibat.
“Ancaman terhadap keluarga perempuan lebih mudah dilakukan karena di masyarakat patriarki, anggota keluarga laki-laki merasa mereka dapat mengontrol perempuan,” jelas Barr.

