GELUMPAI.ID — Kontroversi muncul kembali setelah Lee Jae-myung, kandidat presiden dari Partai Demokrat Korea, mengusulkan untuk memindahkan kantor kepresidenan ke Cheong Wa Dae.
Dalam debat utama yang disiarkan televisi pada Jumat, Lee mengatakan jika terpilih, ia akan tetap menggunakan kantor presiden di Yongsan untuk sementara waktu, namun akan pindah ke Cheong Wa Dae setelah perbaikan selesai.
Lee juga menyebutkan bahwa ia berencana untuk memindahkan kantor presiden ke Sejong City, ibu kota administratif negara ini.
Namun, ia mengakui bahwa langsung pindah ke Sejong saat ini tidak realistis dan menyebut Cheong Wa Dae sebagai “langkah sementara yang memungkinkan.”
Cheong Wa Dae menjadi kantor dan kediaman resmi presiden dari tahun 1948 hingga 2022.
Beberapa mantan presiden, seperti Kim Young-sam dan Moon Jae-in, sempat mengusulkan untuk keluar dari kompleks tersebut untuk mengurangi budaya kekuasaan terpusat yang lama melekat pada kepresidenan.
Namun, upaya ini selalu terhenti karena kekurangan dana dan dukungan politik yang tidak konsisten.
Presiden Yoon Suk Yeol yang baru saja dimakzulkan memutuskan untuk meninggalkan Cheong Wa Dae “untuk lebih dekat dengan rakyat” dan memindahkan kantor kepresidenan ke lokasi saat ini, yakni gedung bekas kementerian pertahanan yang terletak dekat dengan garnisun tentara AS yang hampir kosong.
Pada hari pelantikan Yoon pada 10 Mei 2022, Cheong Wa Dae dibuka untuk umum. Dulu menjadi simbol kekuasaan terpusat yang tertutup, kini tempat ini berfungsi sebagai pusat budaya yang menyelenggarakan pameran, konser, dan acara pendidikan.
Lebih dari 7 juta pengunjung, termasuk lebih dari 800.000 dari luar negeri, telah mengunjungi tempat ini.
Organisasi sipil dan budaya memperingatkan bahwa mengembalikan Cheong Wa Dae sebagai kantor presiden kemungkinan besar akan membatasi akses publik.
Protokol keamanan yang ketat diperkirakan akan membatasi kunjungan, dan banyak program publik yang saat ini tersedia mungkin dihentikan jika digunakan untuk keperluan pemerintahan.

