GELUMPAI.ID – Ribuan orang diperkirakan tewas setelah Siklon Chido menghantam Kepulauan Mayotte di Samudra Hindia. Menurut François-Xavier Bieuville, Pejabat Mayotte, seperti yang dikutip dari Mayotte La 1ère, “Bisa jadi ribuan orang hilang,” ungkapnya pada Minggu lalu.
Sementara itu, Bruno Retailleau, Menteri Dalam Negeri Prancis, mengungkapkan bahwa mungkin butuh waktu beberapa hari untuk memastikan jumlah pasti korban tewas. Hal itu disampaikannya saat tiba di Mayotte untuk melakukan pembicaraan dengan pihak berwenang setempat.
Siklon Chido sendiri merupakan badai kategori 4 dengan kecepatan angin mencapai lebih dari 220 km/jam (136 mph). Menurut laporan dari Météo-France, layanan cuaca Prancis, badai ini melemah setelah melanda daratan Afrika.
Di lokasi kejadian, video yang beredar menunjukkan kerusakan parah, dengan suara satu-satunya yang terdengar hanyalah teriakan burung yang melangkahi puing-puing. Beberapa perahu nelayan kayu yang berukuran bervariasi terdampar di pantai, sementara kapal feri antar-pulau Karihani terjebak di pantai, terbalik dan terbelit puing-puing.
Tiang listrik juga tercabut dari jalanan, dan kabel-kabel terbang terombang-ambing oleh angin kencang yang disertai hujan lebat.
Siklon, atau yang dikenal juga sebagai topan dan hurricane, adalah fenomena badai raksasa yang terbentuk dari angin dan hujan yang dipicu oleh suhu lautan yang hangat dan udara lembap. Nama siklon sendiri disesuaikan dengan lokasi kejadian: hurricane di Samudra Atlantik Utara dan Pasifik Timur Laut, typhoon di Pasifik Selatan dan Samudra Hindia, sementara cyclone terjadi di Pasifik Barat Laut, menurut National Ocean Service AS.
Météo-France menyebutkan bahwa musim siklon di wilayah Samudra Hindia bagian barat daya biasanya berlangsung dari pertengahan November hingga akhir April.
Namun, perubahan iklim membuat fenomena ini semakin parah. Para ahli memperingatkan bahwa atmosfer yang lebih hangat dapat menahan lebih banyak kelembapan, sehingga potensi badai yang lebih panas, lebih basah, dan lebih intens semakin meningkat, dengan risiko banjir dan kerugian yang lebih besar.

