GELUMPAI.ID — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan ofensif militer besar-besaran di Gaza. Tujuannya mengalahkan Hamas dan menguasai distribusi bantuan di wilayah itu.
Dalam pesan video di X, Netanyahu mengatakan penduduk Gaza “akan dipindahkan demi perlindungan mereka”. Operasi ini tidak akan melibatkan serangan sementara, melainkan pendudukan permanen.
Serangan Israel selama 18 bulan telah menewaskan lebih dari 52.000 warga Palestina. Hampir 120.000 lainnya terluka, termasuk ribuan anak-anak.
Kabinet Netanyahu menyetujui pengerahan ribuan tentara cadangan. Militer Israel akan mengendalikan pasokan makanan dan kebutuhan pokok bagi 2,3 juta warga Gaza.
Pejabat Hamas Mahmoud Mardawi menegaskan hanya akan menerima kesepakatan dengan gencatan senjata menyeluruh. “Rakyat kami hanya ingin keselamatan dan keamanan,” katanya!
Menurut laporan dari Al Jazeera, rencana Israel memicu ketegangan internal. Kelompok kampanye Israel menilai operasi ini “mengorbankan” sandera di Gaza.
Juru bicara PBB Farhan Haq menyatakan kekhawatiran atas rencana ini. “Gaza harus tetap menjadi bagian dari negara Palestina di masa depan,” ujarnya.
Kepala militer Israel Eyal Zamir memperingatkan risiko kehilangan sandera jika ofensif dilanjutkan. Ia juga menentang usulan menteri sayap kanan untuk memblokir semua bantuan.
Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mendesak pemblokiran total makanan dan air. “Kami harus membom gudang makanan dan generator,” katanya.
Zamir menegaskan tindakan itu melanggar hukum internasional. “Kamu membahayakan kita semua, kita tidak bisa membuat Gaza kelaparan,” tegasnya!
Oposisi Israel, Yair Lapid, mempertanyakan mobilisasi pasukan tanpa tujuan jelas. Yair Golan menyebut rencana ini hanya untuk menyelamatkan pemerintahan Netanyahu.
Israel berencana menggunakan kontraktor keamanan AS untuk mengelola bantuan. Namun, pejabat Israel menyebut stok makanan di Gaza masih cukup untuk saat ini.
Rencana ini mencakup pembentukan “zona kemanusiaan” di Gaza selatan. Zona ini akan menjadi pusat distribusi bantuan di bawah kendali militer Israel.

