News
Beranda » News » RSF Sudan Dituduh Tiru Taktik Israel dalam Serangan di Zamzam

RSF Sudan Dituduh Tiru Taktik Israel dalam Serangan di Zamzam

GELUMPAI.ID — Pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) menyerbu kamp pengungsian Zamzam di Darfur Utara pada 11 April. Mereka membakar gubuk dan toko, mengeksekusi tenaga medis, dan menembaki warga sipil yang melarikan diri.

Setidaknya 500 orang tewas, termasuk anak-anak dan lansia. Ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi.

RSF menyebut Zamzam sebagai zona militer untuk membenarkan serangan. “Kami mengevakuasi warga sipil agar tidak terjebak baku tembak,” ujar penasihat RSF, Ali Musabel.

Rifaat Makawi, pengacara hak asasi Sudan, menilai RSF meniru taktik Israel di Gaza. “Ini praktik sengaja untuk menghapus perlindungan hukum warga sipil,” katanya!

RSF kerap menggunakan istilah hukum kemanusiaan internasional untuk menutupi kekejaman. Mereka menuding kelompok bersenjata menggunakan warga sebagai tameng manusia.

Menurut laporan dari Al Jazeera, RSF meniru Israel yang menyebut rumah sakit Gaza sebagai pusat komando Hamas. Taktik ini membenarkan serangan terhadap fasilitas yang dilindungi hukum.

Luigi Daniele, dosen hukum kemanusiaan di Nottingham Law School, menyebut pola ini sebagai cetakan genosida. “Klaim RSF mirip dengan Israel, menunjukkan niat pemusnahan massal,” ujarnya.

Kamp Zamzam, yang menampung 350.000 jiwa, menjadi simbol penderitaan komunitas Zaghawa dan Fur. Mereka menghadapi kekerasan genosida sejak 2003 oleh milisi Janjaweed, cikal bakal RSF.

RSF memblokir bantuan ke Zamzam, menyebabkan kelaparan. Mereka kemudian menyerang dengan dalih kamp itu adalah pangkalan militer.

Mosab, penyintas serangan, membantah klaim RSF. “Hanya ada polisi lokal, bukan pemimpin militer di kamp,” katanya.

RSF juga meniru taktik pengusiran massal Israel. Mereka menyebutnya “koridor kemanusiaan” menuju kota seperti Tawila dan Korma.

Namun, video yang diverifikasi Al Jazeera menunjukkan komandan RSF menahan pria tak bersenjata di Tawila. Ia mengancam membunuh mereka sebagai peringatan.

Mohamed Idriss, penyintas lainnya, menyebut RSF melakukan pembersihan etnis. “Kami dieksekusi di jalan dan diusir dengan kekerasan,” ungkapnya!

Laman: 1 2