GELUMPAI.ID — Iran mengonfirmasi bahwa putaran selanjutnya dari pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat akan dilaksanakan di Roma pada akhir pekan ini, setelah sebelumnya terjadi kebingunganan mengenai lokasi perundingan.
Pengumuman tersebut disampaikan melalui siaran televisi negara Iran pada Rabu, bersamaan dengan disetujuinya pengunduran diri salah satu wakil presiden Iran, yang juga menjadi negosiator utama dalam kesepakatan nuklir 2015 dengan kekuatan dunia.
Kepala Badan Pengawas Nuklir PBB, Rafael Grossi, juga tiba di Teheran pada Rabu untuk pertemuan yang kemungkinan mencakup pembicaraan terkait akses yang diberikan kepada inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di bawah kesepakatan yang diajukan.
Siaran TV negara Iran menyebutkan bahwa Oman akan kembali bertindak sebagai mediator pada pembicaraan yang akan digelar pada Sabtu di Roma.
Menteri Luar Negeri Oman sebelumnya juga berperan sebagai perantara dalam perundingan pekan lalu di Muskat, ibu kota Oman.
Pada Senin lalu, beberapa pejabat sempat menyebutkan bahwa Roma akan menjadi tuan rumah perundingan, namun pada Selasa pagi, Iran mengonfirmasi bahwa delegasi mereka akan kembali ke Oman. Sementara itu, pejabat AS belum mengonfirmasi lokasi pasti pertemuan tersebut.
Perundingan ini berlangsung di tengah ketegangan tinggi antara AS dan Iran terkait perkembangan program nuklir Iran.
Presiden AS Donald Trump beberapa kali mengancam akan melancarkan serangan udara ke Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
Sementara itu, pejabat Iran semakin memperingatkan bahwa mereka bisa mengembangkan senjata nuklir dengan persediaan uranium yang telah diperkaya hampir setara dengan level senjata.
Grossi, yang tiba di Teheran untuk pertemuan dengan Pezeshkian dan lainnya, juga menyatakan bahwa Iran “tidak jauh” dari memiliki bom nuklir.
“Itu seperti sebuah teka-teki. Mereka memiliki potongan-potongan itu, dan suatu hari mereka bisa saja merangkainya,” kata Grossi dalam wawancara dengan surat kabar Prancis Le Monde yang diterbitkan pada Rabu.

