GELUMPAI.ID — Serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat di pelabuhan bahan bakar Ras Isa di Yaman telah menewaskan sedikitnya 74 orang. Ini menjadi serangan paling mematikan sejak AS memulai kampanye besar-besaran melawan Houthi pada bulan lalu.
Pemerintah Amerika Serikat berjanji akan terus melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi, yang telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman dalam satu dekade terakhir.
Serangan ini merupakan operasi militer terbesar AS di Timur Tengah sejak Presiden Donald Trump menjabat, dan akan berlanjut hingga Houthi menghentikan serangan terhadap pelayaran Laut Merah.
Juru bicara kementerian kesehatan Houthi, Anees al-Asbahi, menyebutkan bahwa serangan pada hari Kamis lalu juga menyebabkan 171 orang terluka. Tim penyelamat terus melakukan pencarian untuk korban yang masih hilang.
Tentara AS mengatakan serangan ini bertujuan untuk memutuskan pasokan bahan bakar yang digunakan oleh kelompok militan Houthi. Terminal Ras Isa, yang memiliki kapasitas penyimpanan 3 juta barel, merupakan pelabuhan pertama yang dibangun untuk ekspor minyak dari Yaman sekitar 40 tahun yang lalu.
Pihak Komando Pusat AS tidak memberikan komentar terkait angka korban yang dilaporkan oleh kementerian kesehatan Houthi.
“Tujuan serangan ini adalah untuk merusak sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh Houthi, yang terus mengeksploitasi dan membawa penderitaan besar bagi sesama rakyat Yaman,” kata mereka dalam sebuah postingan di X.
Sejak November 2023, Houthi telah melancarkan puluhan serangan drone dan rudal terhadap kapal di Laut Merah, dengan alasan menyerang kapal yang terkait dengan Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina dalam perang Gaza.
Mereka menghentikan serangan terhadap jalur pelayaran selama gencatan senjata dua bulan di Gaza, namun meskipun berjanji untuk melanjutkan serangan setelah serangan Israel dimulai kembali bulan lalu, mereka belum melancarkan serangan baru di Laut Merah.
Pada bulan Maret, serangan dua hari oleh AS menewaskan lebih dari 50 orang, menurut pejabat Houthi.

