GELUMPAI.ID – Serangan Israel di Gaza menewaskan setidaknya 53 warga Palestina, termasuk seorang jurnalis dan pekerja penyelamat, kata para petugas medis, sementara militer Israel mengklaim serangan udara dan daratnya di utara Gaza berhasil menewaskan puluhan militan dan menangkap lainnya.
Dilansir dari Reuters, serangan udara menghantam pusat darurat sipil di kawasan pasar Nuseirat, Gaza Tengah, menewaskan Ahmed Al-Louh, seorang jurnalis video untuk Al Jazeera TV, bersama lima orang lainnya. Serangan lain di sebuah rumah di kamp Nuseirat menewaskan lima orang, termasuk anak-anak.
Jaringan TV Al Jazeera mengatakan bahwa Al-Louh sedang bekerja saat ia terbunuh dan mengecam Israel. Militer Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan militan Hamas dan Jihad Islam yang beroperasi dari kantor Pertahanan Sipil Nuseirat, serta menyebut Al-Louh sebagai anggota kelompok militan Jihad Islam, meski tanpa memberikan bukti.
Al Jazeera belum memberikan komentar langsung terhadap klaim Israel tersebut namun sebelumnya telah mengutuk tuduhan yang menyebut beberapa jurnalisnya yang tewas di Gaza sebagai anggota kelompok militan.
Media Hamas menyebutkan bahwa kepala layanan darurat sipil di Nuseirat, Nedal Abu Hjayyer, juga tewas dalam serangan tersebut. “Markas besar layanan darurat sipil di kamp Nuseirat dihantam saat tim bekerja, mereka bekerja siang dan malam untuk melayani masyarakat,” kata Zaki Emadeldeen dari layanan darurat sipil kepada wartawan di rumah sakit.
Serangan udara Israel lainnya menargetkan sekelompok orang yang terkait dengan Hamas yang ditugaskan untuk melindungi truk bantuan di barat Gaza City, dengan beberapa orang dilaporkan terluka.
Setidaknya 11 orang tewas dalam tiga serangan udara Israel yang menargetkan rumah-rumah di Gaza City, sembilan orang tewas di kota Beit Lahiya, Beit Hanoun, dan kamp Jabalia saat sejumlah rumah dihantam atau terbakar, serta dua orang tewas di Rafah, kata para petugas medis dan warga.
Militer Israel mengatakan bahwa tiga rumah di Gaza City milik militan yang merencanakan serangan mendesak. Israel juga menyebutkan telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko terhadap warga sipil, termasuk menggunakan amunisi tepat sasaran dan pengawasan udara.

