GELUMPAI.ID — Israel melancarkan serangan udara ke Bandara Internasional Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai kelompok Houthi, pada Selasa. Serangan ini disebut telah “melumpuhkan total” fasilitas sipil tersebut.
Serangan juga menyasar sebuah pabrik semen dan beberapa pembangkit listrik di sekitar Sanaa. Militer Israel menyatakan aksi ini sebagai respons atas serangan rudal balistik Houthi dekat Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, pada Minggu.
Militer Israel menyebut Bandara Sanaa sebagai “pusat utama rezim teroris Houthi untuk memindahkan senjata dan operasi”. Operasi ini disetujui oleh Panglima Angkatan Udara dan Kepala Staf militer Israel.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya tiga orang, menurut stasiun televisi Al Masirah yang berafiliasi dengan Houthi. Lebih dari 30 orang lainnya dilaporkan terluka.
Dikutip dari Al Jazeera, jurnalis Mohammed al-Attab melaporkan dampak serangan terhadap infrastruktur masih belum jelas. “Situasi di lapangan sangat sulit untuk diverifikasi,” ujarnya.
Biro politik Houthi mengecam serangan Israel sebagai “bukti kebangkrutan” negara tersebut. “Menyerang pelabuhan, bandara, dan fasilitas sipil Yaman bertujuan memblokade rakyat Yaman,” kata pernyataan mereka!
Houthi menegaskan serangan Israel dan AS tidak akan menghentikan dukungan mereka untuk Gaza. “Serangan ini tidak akan dijawab dengan diam,” tegas mereka.
Sultan Barakat, profesor kebijakan publik di Universitas Hamad Bin Khalifa, Qatar, menyebut serangan ke Bandara Sanaa sebagai “tindakan vandalisme murni”. “Bandara ini bukan target strategis besar dan berada di bawah sanksi ketat PBB serta koalisi,” katanya kepada Al Jazeera.
Menurut Barakat, serangan hanya akan mengganggu operasi PBB dan bantuan kemanusiaan di Yaman. Negara ini merupakan salah satu yang termiskin di dunia.
Serangan terjadi kurang dari 24 jam setelah Israel membom pelabuhan Hodeidah, menewaskan satu orang dan melukai 35 lainnya. Houthi melaporkan sedikitnya enam serangan menghantam pelabuhan tersebut.
Militer Israel mengklaim serangan ke pabrik semen di Bajil, 55 km timur laut Hodeidah, bertujuan melemahkan industri militer Houthi. Mereka menyebut pabrik itu sebagai “sumber ekonomi” untuk kelompok tersebut.

