News
Beranda » News » SERINDO Bengkulu Gelar Diskusi Politik, Tegaskan Pentingnya Keterwakilan Perempuan

SERINDO Bengkulu Gelar Diskusi Politik, Tegaskan Pentingnya Keterwakilan Perempuan

GELUMPAI.ID – Webinar Nasional Kepemiluan bertajuk P3: “Perempuan, Politik, Pemilu” sukses digelar oleh Dewan Pimpinan Daerah Serikat Rakyat Indonesia (DPD SERINDO) Provinsi Bengkulu.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 25 Agustus 2025 ini terselenggara berkat kerja sama dengan KOPRI PMII Cabang Kota Bengkulu, menghadirkan sederet narasumber dari kalangan penyelenggara hingga praktisi kepemiluan.

Nama-nama seperti Dr. Andi Tenri Sompa, S.IP., M.Si (Ketua KPU Provinsi Kalimantan Selatan), Quin Pegagan (Anggota Bawaslu Provinsi DKI Jakarta), hingga Neni Nur Hayati (Direktur Democracy and Election Empowerment Partnership/DEEP) hadir memberikan perspektif mereka soal pentingnya peran perempuan dalam politik.

Dalam forum tersebut, para pembicara menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan baik sebagai pemilih kritis, kandidat politik, maupun penyelenggara pemilu.

Padahal, jumlah pemilih perempuan di Indonesia sangat signifikan dan suaranya kerap menjadi penentu arah kebijakan publik.

Ketua KPU Kalimantan Selatan, Andi Tenri Sompa, menegaskan bahwa kehadiran perempuan dalam politik Indonesia bukan hanya pelengkap, melainkan sebuah keniscayaan sekaligus kekuatan transformatif.

“Begitupula komposisi keanggotaan Penyelenggara Pemilu (KPU, Bawaslu, dan DKPP) memperhatikan keterwakilan perempuan paling sedikit 30 persen,” ungkapnya, sembari mengingatkan kewajiban keterwakilan perempuan dalam daftar caleg sesuai amanat UU Nomor 7 Tahun 2017.

Lebih jauh, akademisi Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) ini menekankan pentingnya suara perempuan dalam pemilu, setidaknya karena empat alasan.

“Representasi aspirasi, keadilan politik, peningkatan kualitas kebijakan, dan penguatan demokrasi,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur DEEP, Neni Nur Hayati, menyampaikan bahwa perempuan tidak boleh sekadar dianggap pelengkap dalam politik, melainkan sebagai penentu arah pembangunan bangsa.

“Kehadiran mereka di ruang politik akan membawa perspektif yang lebih adil dan inklusif,” tegasnya.

Namun, Neni juga menyoroti hambatan nyata yang kerap dihadapi perempuan, mulai dari budaya patriarki, keterbatasan finansial, hingga stigma sosial yang masih melekat bahwa politik bukanlah dunia perempuan.

Laman: 1 2