GELUMPAI.ID — Yuki Tsunoda mengakui ia seharusnya mengambil pendekatan berbeda saat menyetel mobil Red Bull-nya di GP Jepang.
Balapan di Suzuka menjadi debut Tsunoda bersama tim utama Red Bull musim ini, menggantikan posisi Liam Lawson yang belum menunjukkan hasil maksimal.
Dalam sesi latihan bebas, Tsunoda sempat menunjukkan kecepatan yang menjanjikan. Namun, hasil akhir justru mengecewakan.
Ia gagal menembus sesi Q3 dan harus puas start dari posisi ke-14, usai mendapat keuntungan dari penalti Carlos Sainz.
Dengan kondisi lintasan yang menyulitkan untuk menyalip, Tsunoda akhirnya finis di urutan ke-12.
Ini menjadi hasil yang mengecewakan, apalagi rekan setimnya, Max Verstappen, berhasil meraih kemenangan dari posisi terdepan.
Mantan juara dunia F1 1997, Jacques Villeneuve, mengkritisi pilihan setup Tsunoda yang dianggap terlalu aman. Ia menilai downforce berlebih justru menghambat performa Tsunoda.
Tsunoda sendiri akhirnya buka suara soal strategi yang ia ambil.
“Sejak FP2, ada banyak red flag dan saya tidak bisa mengemudi dengan baik karena waktu yang terbatas,” ujar Tsunoda.
“Saya sudah melakukan banyak perubahan setup dari FP1 ke FP2. Dari FP2 ke FP3 pun saya melakukan perubahan besar.”
“Saya mulai merasa bingung di situ. Pada akhirnya saya hanya ingin sedikit lebih konsisten.”
“Jadi meskipun saya tahu itu akan menjadi kompromi di kondisi kering, terutama saat balapan, saya tetap memilih konsistensi.”
“Dan saya merasa setidaknya untuk kualifikasi, saya punya sedikit lebih banyak rasa percaya diri untuk menggali performa dari mobil.”
“Kalau saya punya satu sesi kualifikasi lagi, saya akan mengambil pendekatan berbeda. Tapi saya pikir itu adalah pilihan terbaik yang bisa saya ambil saat itu.”
Meski gagal mencetak poin, performa Tsunoda masih mendapat sorotan positif dari Helmut Marko.
Mengutip F1.com, Marko mengatakan: “Dia kalah karena membuat kesalahan di Kualifikasi saat memasuki Tikungan 1. Tapi di sesi lainnya, dia hanya terpaut dua sampai tiga persepuluh dari Max, dan itu yang kami cari.”

