GELUMPAI.ID — Balapan Sprint MotoGP Spanyol menunjukkan aksi minim. Sepuluh pembalap teratas finis di posisi sama seperti putaran kedua.
Fenomena ini jadi contoh ekstrem musim ini. Balapan jarak pendek terasa kurang seru.
Di Buriram, lima posisi teratas tak berubah sejak putaran kedua. Di Termas, COTA, dan Qatar, podium juga mencerminkan urutan awal.
“Pembalap mulai terbiasa dengan Sprint,” kata Luca Marini dari HRC usai balapan Sabtu.
Ia menilai risiko terlalu besar dibandingkan poin yang didapat. “Risikonya banyak, poinnya kecil,” ujarnya.
Marini menyebut pengalaman Pecco Bagnaia kehilangan gelar 2023 akibat crash di Sprint. Ini mengubah pola pikir pembalap.
“Semua pembalap ingin podium di Sprint. Tapi crash demi satu poin tambahan tak sepadan,” katanya.
Crash di Sprint juga merugikan data untuk balapan utama. Konsistensi kini lebih diutamakan.
Dikutip dari CRASH, penalti juga memengaruhi gaya balap. Pembalap kini lebih berhati-hati.
“Penalti bikin pembalap lebih tenang,” ungkap Marini.
Ia memuji kerja Dorna, IRTA, dan Komisi Keselamatan. Mereka berupaya tingkatkan keselamatan dan hiburan.
Marini usul poin penuh untuk Sprint. “Itu pasti menarik!” serunya.
Balapan Sprint masih jadi sorotan. Format ini butuh penyegaran agar lebih kompetitif.

