News
Beranda » News » Sri Mulyani Bahas Peluang Negosiasi Tarif dengan Dubes AS

Sri Mulyani Bahas Peluang Negosiasi Tarif dengan Dubes AS

GELUMPAI.ID — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, H.E. Kamala Shirin Lakhdhir, pada Kamis (17/4/2025). Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas isu pengenaan tarif perdagangan yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia.

Sri Mulyani menyampaikan pandangan pemerintah Indonesia terkait potensi negosiasi yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tarif tersebut.

“Kami berdiskusi secara terbuka mengenai langkah-langkah yang bisa ditempuh bersama agar isu ini dapat diselesaikan dengan tetap mengedepankan asas keadilan bagi kepentingan ekonomi kedua negara dan dunia,” ujarnya.

Menurut Sri Mulyani, Indonesia berharap dapat menjajaki peluang negosiasi yang saling menguntungkan bagi kedua negara. Selain isu perdagangan, Menteri Keuangan juga memaparkan desain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang sudah disiapkan.

Bendahara negara juga menambahkan bahwa APBN 2025 difokuskan untuk mendukung program-program prioritas pemerintah, termasuk program-program pro-rakyat seperti pemberian makan bergizi gratis, perlindungan sosial, dan pembangunan 3 juta rumah untuk masyarakat.

Sebelumnya, Amerika Serikat mengumumkan pemberlakuan tarif resiprokal pada produk impor dari beberapa negara, termasuk Indonesia. Tarif tersebut sebesar 32 persen, namun Presiden Donald Trump menunda penerapannya selama 90 hari, memberikan waktu bagi Indonesia untuk melakukan negosiasi.

Pemerintah Indonesia, melalui delegasi yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, memulai perundingan langsung sejak 15 April 2025 di Amerika Serikat. Delegasi Indonesia membawa beberapa poin penawaran penting yang akan dibahas lebih lanjut selama kunjungan tersebut.

Dalam negosiasi, Indonesia juga berencana menawarkan kerja sama yang menguntungkan kedua negara, terutama di bidang perdagangan, investasi, dan sektor keuangan.

Sumber: Tempo