Bola & Sports
Beranda » Tangis dan Terima Kasih Ranieri Iringi Laga Perpisahan di Olimpico

Tangis dan Terima Kasih Ranieri Iringi Laga Perpisahan di Olimpico

Stadion Olimpico pada Minggu (18/5/2025) malam WIB menjadi saksi momen haru saat Claudio Ranieri menjalani pertandingan terakhirnya sebagai pelatih AS Roma. (cr/football italia)

GELUMPAI.ID – Stadion Olimpico pada Minggu (18/5/2025) malam WIB menjadi saksi momen haru saat Claudio Ranieri menjalani pertandingan terakhirnya sebagai pelatih AS Roma. Usai mengantarkan kemenangan 3-1 atas AC Milan, pria yang dikenal sebagai penggemar setia Giallorossi sejak kecil itu menyampaikan pidato perpisahan yang menyentuh hati di hadapan ribuan suporter.

Ranieri, yang kembali menangani Roma pada November lalu dalam situasi sulit, berhasil mengangkat performa tim hingga menempati posisi kelima klasemen dan masih memiliki peluang tipis untuk lolos ke Liga Champions. Keputusan pensiun di akhir musim ini membuat laga kontra Milan menjadi momen emosional bagi dirinya dan para suporter.

Selepas peluit akhir berbunyi, Ranieri menerima berbagai hadiah dari klub dan berkesempatan menyampaikan pesan terakhirnya kepada para penggemar yang memadati Olimpico. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia memulai pidatonya.

“Terima kasih kepada semuanya. Saya ada di antara kalian 60 tahun lalu di tribun itu. Saya meminta bantuan kalian, dan kini kami membutuhkan langkah terakhir itu,” ujar Ranieri, mengenang masa kecilnya sebagai seorang Romanisti di tribun stadion yang sama.

“Saya sangat bangga dengan para pemain ini. Kami membutuhkan cinta kalian. Terima kasih. Saya berterima kasih kepada kalian tanpa batas,” lanjutnya, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para suporter atas dukungan mereka.

Emosi Ranieri masih terasa kuat saat memberikan wawancara pasca-pertandingan kepada DAZN. “Saya masih merasakan adrenalin! Ketika saya melihat rekaman ini nanti, mungkin saya akan merasa lebih tersentuh. Ini luar biasa, karena merasa dihargai oleh orang-orang sendiri selalu menjadi sesuatu yang luar biasa,” tuturnya.

Ranieri juga mengenang masa-masa sulit saat ia kembali ke Roma. “Kami memulai dari situasi yang sulit, tetapi tim tidak pernah kehilangan arah. Saya berterima kasih kepada para pemain, karena tidak mudah sama sekali dalam situasi itu, ketika semuanya tampak suram. Saya sangat bahagia untuk mereka, untuk para penggemar, dan untuk Presiden,” ungkapnya.

Penghormatan kepada Ranieri bahkan telah dimulai sebelum pertandingan. Spanduk-spanduk besar bertuliskan ucapan terima kasih membentang di seluruh tribun Curva Sud, menunjukkan betapa besar apresiasi para suporter terhadap dedikasi dan kecintaan Ranieri kepada Roma.

“Saya melihat wasit dan mendesaknya untuk segera memulai pertandingan. Saya bekerja untuk ini, untuk emosi yang bisa diberikan sepak bola kepada Anda, baik positif maupun negatif,” aku Ranieri, yang berusaha keras menahan air mata saat melihat penghormatan tersebut.

Kedatangan Ranieri memang membawa perubahan signifikan bagi Roma. Setelah era Daniele De Rossi dan Ivan Juric, ia berhasil mentransformasi performa tim di Serie A, Liga Europa, dan Coppa Italia.

“Para pemain ini mendukung saya sejak hari pertama, mereka tahu karakter saya. Saya mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus membantu saya, karena saya tidak bisa melakukannya sendiri. Saya menaruh kepercayaan pada mereka, karena ketika saya tiba, suasana hati mereka benar-benar berada di titik terendah dan mereka hampir tidak memiliki harga diri yang tersisa. Kami perlahan berhasil mendaki gunung itu,” ungkapnya.

Ranieri juga membagikan filosofinya kepada para pemain. “Saya selalu mengatakan kepada para pemain saya untuk berjuang hingga detik terakhir, karena setidaknya dengan begitu Anda bisa meninggalkan lapangan dengan mengetahui bahwa Anda telah memberikan segalanya. Kemudian, jika tim lain lebih baik, Anda memberikan hormat kepada mereka. Ketika Anda memberikan segalanya, Anda bisa menerima hasil di lapangan,” jelasnya.

“Kami mencatatkan 19 pertandingan tanpa terkalahkan dan itu benar-benar periode yang penting,” kenangnya tentang salah satu momen terbaik di bawah kepemimpinannya.

Kini, dengan satu pertandingan tersisa, Roma masih berpeluang lolos ke Liga Champions, meskipun mereka harus meraih kemenangan dan berharap Juventus terpeleset. Ditanya mengenai keyakinannya, Ranieri menjawab dengan bijak.

“Saya tidak pernah percaya pada target apa pun, saya hanya percaya pada kerja keras dan melupakan kemenangan atau kekalahan. Selalu ada pertandingan lain, lawan lain, dan dinamika lain. Saya percaya pada para pemain saya. Torino adalah tim yang kuat dan bersemangat, dan kami akan pergi ke sana untuk memainkan permainan kami, lalu melihat di mana posisi kami pada akhirnya,” pungkas Ranieri, menyerahkan segalanya pada takdir di laga terakhir.