GELUMPAI.ID — Perum Bulog akhirnya memberikan klarifikasi soal temuan beras impor berkutu yang ditemukan di gudang mereka. Temuan ini pertama kali disampaikan oleh Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, saat memimpin kunjungan kerja ke Gudang Bulog di Yogyakarta pada awal Maret 2025.
“Pada reses lalu, saya memimpin tim ke Jogja dan kami meninjau Gudang Bulog. Di situ kami menemukan beras sisa impor yang sudah banyak kutunya,” kata Titiek dalam rapat kerja bersama Kementerian Pertanian, Selasa (11/3/2025).
Menanggapi hal tersebut, Direktur Supply Chain Pelayanan Publik Perum Bulog, Mokhamad Suyamto, mengungkapkan bahwa beras memang rentan terhadap hama, termasuk kutu, selama penyimpanan. “Beras sebagai komoditas pangan berpotensi terkena serangan hama selama penyimpanan. Apalagi beras ini sebagai cadangan pangan pemerintah yang disimpan dalam waktu yang relatif lama,” jelas Suyamto.
Untuk menjaga kualitas beras, Bulog menerapkan sistem Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT). Suyamto memastikan bahwa pengawasan kualitas dan serangan hama di gudang dilakukan secara rutin. Jika ditemukan kutu, Bulog akan melakukan perawatan intensif dengan penyemprotan dan fumigasi.
“Apabila terjadi serangan hama, kami lakukan spraying (penyemprotan) dan fumigasi untuk memastikan beras yang dikeluarkan bebas dari hama,” tuturnya.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, juga memberikan penjelasan terkait temuan tersebut. “Kami sedang melakukan pengecekan di gudang Bulog. Jika beras sudah rusak, tentu tidak akan disalurkan ke masyarakat. Akan ada solusi lain seperti untuk pakan ternak,” ujar Sudaryono saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (12/3/2025).
Namun, Ketua Dewan Pengawas Bulog mengungkapkan bahwa mereka masih melakukan pengecekan menyeluruh terkait beras yang terpapar kutu. “Mudah-mudahan tidak terlalu banyak. Bulog itu punya fungsi sebagai penyimpanan stok cadangan pangan negara dan penyeimbang harga,” katanya.
Sumber: CNBC Indonesia

