GELUMPAI.ID – Tottenham Hotspur memastikan diri melaju ke final Liga Europa dan akan menantang Manchester United setelah menaklukkan tuan rumah Bodo/Glimt dengan skor agregat 5-1. Kemenangan 2-0 di leg kedua semifinal yang berlangsung di Norwegia, Jumat (9/5/2025) dini hari WIB, mengantarkan Spurs ke final Eropa keenam mereka, yang pertama sejak final Liga Champions 2019.
Gol dari Dominic Solanke dan Pedro Porro di babak kedua memastikan langkah tim asuhan Ange Postecoglou ke partai puncak yang akan digelar di Bilbao pada 21 Mei mendatang, sekaligus menciptakan final sesama tim Inggris melawan Manchester United.
Penantian gelar juara Tottenham di Eropa telah berlangsung selama 41 tahun, sejak mereka meraih Piala UEFA pada 1984. Puasa gelar secara keseluruhan bahkan lebih lama, terakhir kali mereka mengangkat trofi Piala Liga pada 2008.
Pernyataan berani Postecoglou pada September lalu bahwa ia selalu memenangkan trofi di musim keduanya bersama sebuah klub sempat menjadi bahan perbincangan mengingat posisi Tottenham yang sempat terpuruk di Liga Primer. Namun, kini mereka hanya selangkah lagi untuk mengakhiri dahaga gelar dan membuktikan kebenaran ucapan sang pelatih asal Australia, terlepas dari performa domestik mereka yang kurang memuaskan.
Spurs berhasil meraih kemenangan ini tanpa kehadiran pemain kunci seperti James Maddison, Lucas Bergvall, dan Son Heung-min. Laga ini sendiri merupakan sejarah bagi Bodo/Glimt yang untuk pertama kalinya mencapai semifinal kompetisi Eropa. Kemenangan 3-1 di leg pertama pekan lalu memberikan keuntungan bagi Spurs, dan mereka mampu mengelola pertandingan tandang dengan baik, membatasi peluang tim tuan rumah yang bermain dengan penuh energi di lapangan artifisial.
Bodo/Glimt, yang sebelumnya menyingkirkan Lazio di perempat final dan mengalahkan Porto di kandang, membutuhkan gol cepat. Namun, hal itu tidak terwujud setelah tendangan bebas Patrick Berg berhasil ditepis oleh kiper Tottenham, Guglielmo Vicario. Babak pertama berjalan ketat, namun Tottenham mampu mengendalikan permainan di babak kedua, membuktikan bahwa kekhawatiran mereka akan kesulitan di Lingkaran Arktik tidak terbukti.
Bek sayap Destiny Udogie sempat menggagalkan peluang Kasper Hogh, namun Solanke memperlebar keunggulan Tottenham pada menit ke-63 setelah memanfaatkan umpan sundulan dari Cristian Romero di depan gawang. Enam menit berselang, umpan silang melengkung Porro dari sisi kanan gagal diantisipasi kiper Bodo/Glimt dan masuk ke gawang setelah membentur tiang.
Harapan tim Norwegia untuk bangkit pupus, bahkan penalti yang diberikan kepada mereka di masa injury time dibatalkan oleh Video Assistant Referee (VAR). Di Bodo, pada periode waktu ini, matahari tidak pernah benar-benar tenggelam, dan semangat Tottenham untuk meraih gelar Eropa pun terus menyala.
Berada sekitar 120 kilometer di dalam Lingkaran Arktik, Tottenham tampil dingin dan profesional, mematahkan ekspektasi banyak pihak yang mengira Bodo/Glimt akan memberikan perlawanan sengit. Sebelum laga, catatan kandang Bodo/Glimt di Eropa sangat impresif, hanya sekali kalah musim ini dan mampu menyingkirkan Lazio dengan skor 2-0 di babak sebelumnya.
Namun, ketegangan, kecemasan, drama, bencana, dan kekecewaan – hal-hal yang kerap menghantui Tottenham musim ini – tidak terlihat dalam pertandingan ini. Bahkan, hadiah penalti yang diberikan kepada Bodo/Glimt di menit-menit akhir dibatalkan setelah VAR menilai Porro lebih dulu menyentuh bola. Tottenham mampu meredam agresivitas Bodo/Glimt dan mengambil kendali penuh setelah gol tap-in sempurna dari Solanke memperlebar keunggulan agregat menjadi tiga gol.
Dengan keunggulan tersebut, Tottenham bermain lebih aman dan kini dapat fokus mempersiapkan diri untuk laga final di Bilbao melawan tim asuhan Ruben Amorim, Manchester United. Antusiasme di sekitar kota Bodo sangat terasa. Bendera tim berkibar di jendela rumah, perahu, pusat perbelanjaan, dan di sepanjang jalan.
Pub dan restoran bahkan berjanji untuk tetap buka hingga dini hari jika Bodo/Glimt menang, sebagai bentuk pengakuan atas betapa bersejarahnya pertandingan ini bagi klub, kota, dan negara. Namun, harapan itu pupus setelah Bodo/Glimt – tim Norwegia pertama yang mencapai semifinal kompetisi besar Eropa – harus mengakui keunggulan Tottenham.
Meski tidak mampu memberikan ujian yang berarti bagi pertahanan Tottenham, tim asuhan Kjetil Knutsen diyakini akan mendapatkan pelajaran berharga dari pengalaman ini. Sebagai klub kecil di panggung Eropa namun dominan di Norwegia dengan empat gelar liga dalam lima musim terakhir, ada keyakinan bahwa ini bukan kali terakhir Bodo/Glimt melangkah jauh di kompetisi Eropa.
Knutsen telah menciptakan budaya di mana ia tidak memprioritaskan hasil semata, tetapi juga performa dan akuntabilitas, yang telah membawa mereka ke tahap ini. Pelatih kepala Bodo/Glimt ini kini menjadi incaran banyak klub, dengan beberapa delegasi dari tim-tim tertarik melakukan perjalanan ke Norwegia. Melaju ke babak grup Liga Champions menjadi target selanjutnya dalam perjalanan mereka.

