News
Beranda » News » Usai Tarif Trump, Kini Jepang Alami Lonjakan Harga Beras

Usai Tarif Trump, Kini Jepang Alami Lonjakan Harga Beras

GELUMPAI.ID — Lonjakan harga beras yang signifikan di Jepang mendorong para pengecer mencari alternatif lebih murah, seperti barley dan mie untuk bento, demi menekan biaya dan mempertahankan pelanggan.

Beberapa pengecer bahkan memperluas penjualan beras impor yang lebih terjangkau.

Pada bulan Maret, jaringan toko serba ada Lawson meluncurkan seri bento “Okazudon!” yang mengurangi penggunaan beras dan menggantinya dengan lebih banyak spaghetti dan lauk untuk menekan biaya sambil menjaga volume penjualan.

Presiden Lawson, Sadanobu Takemasu, menyebutkan bahwa “proses dari pengembangan produk hingga penjualan kini lebih sulit dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.”

Di toko Natural Lawson yang menargetkan konsumen peduli kesehatan, mereka mulai mencampurkan mochimugi (barley kenyal) ke dalam nasi untuk semua produk bento dingin, menggantikan campuran nasi dan biji-bijian kecil yang sebelumnya digunakan.

Barley lebih murah daripada beras dan dapat menambah volume. Perusahaan juga mempertimbangkan penggunaan mochimugi di produk yang dijual di Lawson reguler.

Beberapa jaringan supermarket juga mulai mencari solusi serupa. Seiyu, misalnya, mulai menjual beras Taiwan pada bulan November lalu dengan harga ¥2.797 per 5 kilogram.

Meskipun harga beras tersebut naik menjadi ¥3.229 karena biaya pengadaan yang lebih tinggi, produk ini masih lebih murah dibandingkan dengan beras domestik.

“Beras Taiwan ini selalu terjual habis begitu masuk rak, dan beberapa toko mengalami kekurangan stok,” ujar seorang pejabat.

Pada bulan April, Aeon mulai menjual merek beras Nisui no Takumi, campuran 80% beras dari AS dan 20% beras domestik, dengan harga ¥3.002 per 4 kg.

“Saya rasa rasanya sama baiknya dengan beras domestik,” ungkap seorang pembeli.

Sumber: Japan Times