Sementara itu, Sekretaris DPW Prima Banten, Syamsul Ma’arif, menilai kegiatan Duta Prima menjadi sarana efektif untuk menarik minat generasi muda perempuan, khususnya Gen Z, agar lebih peduli pada persoalan yang dihadapi kaumnya.
“Menarik generasi perempuan Gen Z, supaya mereka tertarik dengan dunia baru yang berbeda dengan dunia kebiasaan mereka dengan cara ini,” ujar Syamsul.
Ia mengaku antusiasme peserta melebihi ekspektasi panitia.
Pihaknya tidak menyangka ajang ini ternyata diikuti oleh peserta yang berasal tidak hanya dari Ibukota Provinsi Banten saja.
“Awalnya sempat pesimis, tapi ternyata begitu program ini di-launching banyak peserta yang akhirnya ikut. Ada perwakilan dari seluruh daerah se-Banten, meskipun awalnya tidak kita targetkan sampai ke situ,” jelasnya.
Syamsul berharap para finalis mampu menjadi agen perubahan dalam mengampanyekan isu perlindungan perempuan dan anak, baik melalui media sosial maupun turun langsung ke sekolah-sekolah.
“Yang kita ingin tekankan tentu saja dia nanti akan menjadi perempuan yang maju, bisa menularkan perspektif yang dia miliki kepada generasi seusianya,” tegasnya.
Sementara itu, Head Project Women Political Leadership, Ika April, mengatakan bahwa Duta Prima Banten dibentuk sebagai wadah bagi perempuan untuk belajar dan berproses menuju kepemimpinan yang matang.
“Kita mendorong agar LPLPP Prima Banten ini bisa menjadi wadah perempuan-perempuan Banten belajar, berproses, sampai terbentuknya sifat kepemimpinan yang matang, kesiapan mental dalam berpolitik, karena politik tidak hanya sekadar perebutan kursi, tapi juga bagian dari kehidupan bermasyarakat,” jelas Ika.
Ia menambahkan, keberadaan Duta Prima diharapkan dapat melahirkan pemimpin perempuan yang mampu memperjuangkan kebijakan pro-rakyat serta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi perempuan dan anak.
“Kalau perempuannya yang duduk di anggota legislatif dan eksekutif dari Duta Prima, ini bisa mewujudkan Banten yang inklusif, aman, dan nyaman bagi perempuan dan anak,” ucapnya.

