GELUMPAI.ID – Fabio Quartararo ternyata belajar banyak dari Lewis Hamilton. Bukan soal balapan cepat-cepatan, tapi bagaimana cara membangun kembali tim yang sedang terpuruk.
Hasilnya? Yamaha mulai bangkit di MotoGP 2025, dan Quartararo jadi aktor utamanya.
Meski hasil balapnya masih jauh dari kata dominan, Fabio Quartararo tetap jadi jantung Yamaha musim ini.
Empat pole position berhasil diraih, meskipun belum ada yang berujung kemenangan.
Namun, dibanding musim lalu yang suram, kebangkitan 2025 ini terasa lebih menjanjikan, dan semua itu dimulai dari pengamatan kecil di paddock Formula 1.
Jalan Terjal Quartararo Bersama Yamaha
Setelah mengalami musim mengecewakan pada 2024, di mana finis terbaiknya cuma keenam, Quartararo tetap setia pada Yamaha.
Ia bisa saja pindah ke tim satelit Ducati dengan potensi hasil yang lebih baik, tapi memilih bertahan dan menanti motor baru Yamaha V4, yang katanya bakal jadi senjata utama musim depan.
Dengan hasil musim lalu yang hanya membawanya ke peringkat ke-13 klasemen, Quartararo kini sedang mengejar posisi sembilan besar.
Sebuah langkah maju, walau kecil, dan semua dimulai dari cara pikir yang ia ubah setelah ngobrol bareng Lewis Hamilton.
Belajar dari Hamilton: Fokus pada Detail
Dalam wawancara dengan SPEEDWEEK, Quartararo mengaku terinspirasi usai berkunjung ke Ferrari dan melihat langsung interaksi antara Hamilton dan Charles Leclerc dengan para insinyur.
“Yang saya pelajari adalah soal detail. Kami memang tak bisa mengubah segalanya dari 0 ke 100, tapi bisa sedikit demi sedikit menyesuaikan agar dapat lebih banyak informasi,” kata Quartararo.
Bukan cuma soal setting motor, tapi juga cara komunikasi dan pendekatan teknis ala Formula 1 yang menurutnya bisa diadaptasi ke MotoGP.
Dari sanalah muncul inisiatif perubahan di Yamaha, dan sejauh ini efeknya mulai terasa.
Tiga Tahun Tanpa Kemenangan, Tapi Tak Menyerah
Fakta mengejutkan, sudah lebih dari tiga tahun sejak terakhir kali Quartararo menang balapan.
Terakhir terjadi di GP Jerman 2022. Saat itu ia bahkan unggul 34 poin dari Aleix Espargaro di puncak klasemen, sebelum akhirnya kehilangan gelar karena kebangkitan mengejutkan dari Francesco Bagnaia.

