Contoh konkret di lapangan menunjukkan bahwa sekolah-sekolah yang berhasil menerapkan kurikulum diferensiasi mampu meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa secara signifikan. Siswa yang sebelumnya pasif atau tertinggal menjadi lebih percaya diri, karena pembelajaran dirancang sesuai dengan gaya dan ritme belajar mereka.
Peran Guru dan Sekolah
Guru memegang peranan sentral dalam implementasi kurikulum diferensiasi di kelas inklusif. Guru perlu memiliki kompetensi pedagogik yang mumpuni, termasuk keterampilan asesmen formatif, kemampuan membuat rancangan pembelajaran fleksibel, dan kepekaan terhadap kebutuhan sosial-emosional siswa.
Sekolah, sebagai institusi, juga harus memberikan dukungan melalui kebijakan yang adaptif, pelatihan guru secara berkala, serta penyediaan sumber daya belajar yang variatif. Kolaborasi dengan orang tua dan tenaga pendamping profesional seperti guru pendamping khusus (GPK) juga menjadi bagian integral dari keberhasilan program ini.
Penutup
Integrasi kurikulum diferensiasi dalam pembelajaran inklusif di kelas rendah SD merupakan langkah progresif menuju sistem pendidikan yang lebih adil dan bermartabat. Dengan pendekatan ini, setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi terbaiknya.
Sudah saatnya sistem pendidikan kita benar-benar menjadi ruang yang ramah bagi semua anak, tanpa terkecuali. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang merangkul setiap anak dalam perjalanan belajarnya.

