News

Revolusi Suriah Gulingkan Assad, Melarikan Diri ke Rusia dalam Kejutan Timur Tengah

Dilansir dari organisasi penyelamat White Helmets, mereka mengirimkan lima tim darurat ke penjara Sedhaya yang terkenal untuk mencari sel bawah tanah yang diduga masih menyimpan tahanan.

Di Damaskus, tanpa kehadiran Assad untuk pertama kalinya, jalan-jalan menuju kota terlihat hampir kosong, kecuali untuk beberapa pria bersenjata yang menaiki sepeda motor dan kendaraan pemberontak yang dipenuhi lumpur sebagai kamuflase. Beberapa orang terlihat menjarah pusat perbelanjaan di jalan menuju perbatasan Lebanon. Poster-poster Assad dirusak pada bagian matanya. Sebuah truk militer Suriah yang terbakar terparkir diagonal di jalan keluar kota.

Dikutip dari pemberontak, mereka melaporkan bahwa mereka memasuki ibu kota tanpa melihat adanya pasukan tentara. Ribuan orang, baik dengan mobil maupun berjalan kaki, berkumpul di alun-alun utama Damaskus, melambaikan tangan dan meneriakkan “Kebebasan.”

Orang-orang terlihat masuk ke dalam Istana Presiden Al-Rawda, beberapa di antaranya membawa furniture keluar. Sebuah sepeda motor terparkir di lantai marmer yang indah di salah satu aula istana.

Koalisi pemberontak Suriah mengatakan bahwa mereka sedang berusaha menyelesaikan proses alih kekuasaan kepada badan transisi yang memiliki kekuasaan eksekutif.

“Revolusi besar Suriah telah bergerak dari tahap perjuangan untuk menggulingkan rezim Assad ke perjuangan untuk membangun Suriah bersama yang layak dengan pengorbanan rakyatnya,” kata mereka dalam sebuah pernyataan.

Mohammad Ghazi al-Jalali, perdana menteri di bawah Assad, menyerukan pemilihan bebas dan mengatakan bahwa dia telah berhubungan dengan Golani untuk membahas periode transisi.

Golani, yang kelompoknya dulunya merupakan cabang al-Qaeda di Suriah namun telah melunakkan citranya untuk meyakinkan anggota sekte minoritas dan negara-negara asing, mengatakan bahwa tidak ada ruang untuk mundur.

Dilansir dari Reuters, perkembangan cepat ini mengejutkan ibu kota Arab dan memicu kekhawatiran akan ketidakstabilan lebih lanjut setelah perang Gaza.

Presiden AS Joe Biden, dalam pidato televisi, menyambut kejatuhan Assad, namun mengakui bahwa ini juga merupakan momen penuh risiko dan ketidakpastian. “Saat kita semua berpikir tentang apa yang akan datang, Amerika Serikat akan bekerja dengan mitra dan pemangku kepentingan di Suriah untuk membantu mereka memanfaatkan peluang ini sekaligus mengelola risikonya,” kata Biden.

Laman: 1 2 3