Menyadari Eksistensi Diri

Oleh :

yang selalu berproses dalam pencarian,tak kunjung usai karena peningkatan kapasitas yang terus bertambah walau selalu dengan limitasi sebagai makhluk.

Stigmatisasi atas sebagai makhluk sosial adalah keliru karena hakikatnya adalah makhluk soliter yang mencari kebermanfaatan atas dirinya yang mengaku bermanfaat untuk orang lain.

Pada tujuan akhirnya adalah berharap keselamatan diri dalam ataupun .

Perspektif tentang secara fungsional memang bercabang, namun secara garis besar adalah untuk hidup tanpa butuh validasi dari makhluk.

Penilaian lain yang menganggap tahu siapa diri kita adalah hal berat untuk dijauhkan, yang padahal hanya tuhan lah yang mengetahui diri kita mengenali diri bukanlah hal sepele yang dapat dipelajari secara formal atau non formal.

Untuk mengenali diri butuh waktu seumur hidup ‘man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu’ yang artinya : Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.

Maka jawabannya adalah tak akan usai, mengenali diri adalah hal mendalam,berbeda dengan mengetahui identitas diri,ini hanya butuh pengetahuan.

Karena adanya kebenaran yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya adalah hal yang haq pasti dan mutlak, manusia sebagai makhluk yang terimitasi tidak akan pernah sampai dalam pembuktian ini.

Hanya satu cara untuk membuktikannya,yaitu dengan keluar dari sebuah sistem yang disebut jagat raya.

Rifqi Fatahilah
WRITTEN BY

Rifqi Fatahilah

Menabung rindu bukan bagian dari investasi. So! Mending baca berita gelumpai.id daripada berlarut-larut dalam romantisme receh

Tinggalkan Balasan